Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 November 2019

Jihad Zaman Now

Jihad Zaman Now



Photo: Eksklusif


Bagaimana cara mengartikan jihad di zaman now? Sehingga tidak tersalah mengartikan jihad hanya sebatas perang melawan orang kafir saja. Tulisan singkat ini mencoba untuk mengulik hal itu. 

Berjuang mempertahankan hidup demi tercapainya sebuah cita-cita merupakan bagian dari jihad. Kalau melihat dari makna jihad itu sendiri, yaitu; bersungguh-sungguh. Yakni bersungguh -bermujahadah- untuk menjadikan masa depan lebih baik. Sehingga tidak mudah terbawa kepada hal-hal yang bersifat negatif.

Mereka yang bersekolah dengan tujuan agar tidak menjadi terbelakang, karena miskin pengetahun yang berdampak pada sulitnya mendapatkan pekerjaan --walaupun tidak terlalu tepat bila sekolah selalu dikaitkan dengan dunia kerja-- adalah bagian dari jihad tadi. Mereka yang berjuang keras agar generasi dibelakangnya tidak menjadi generasi yang lemah, baik dari segi mental, fisik dan lain sebagainya juga bagian dari jihad. 


Jihad jangan diartikan secara sempit, hanya sebatas mengangkat senjata untuk memerangi orang kafir saja. Mengartikan jihad hanya pada sebatas perang bisa menyebabkan kita terjebak pada penyempitan makna jihad itu sendiri. Kita sudah berada pada zaman yang jauh berbeda dari zaman ketika kita masih dijajah oleh orang-orang koloneal. Jihad sekarang bukan lagi mengangkat pedang untuk memerangi orang kafir di medan perang. Tapi jihad saat ini adalah bagaimana kita mengangkat pena agar terhindar dari keterbelakangan. Bagaimana kita bisa lepas dari jerat kemiskinan, baik miskin materi, lebih-lebih lagi miskin pengetahuan.


Kemiskinan ibarat mata rantai yang sambung menyambung yang sangat sulit untuk diputuskan. Perlu usaha keras untuk bisa memutus mata rantai kemiskinan. Miskin dari segi materi mungkin tidak terlalu berbahaya, namun miskin pengetahun akan berakibat kepada miskin pikiran. Orang mungkin, bisa dengan mudah keluar dari miskin materi, asal mau bekerja sedikit lebih keras, gigih, tapi tidak dengan miskin pengetahuan. 


Orang-orang yang miskin pengetahuan (baca tidak berilmu) akan mudah diombang ambingkan keadaan, karena ketiadaan (minimnya) nalar dalam merespon informasi yang didapat. Jadilah semua informasi ditelan mentah-mentah tanpa ada proses penyaringan. Mereka yang punya pengetahuan akan mampu memfelter setiap informasi yang diterima, kemudian menyaringnya dan memilah mana informasi yang laik dikonsumsi dan mana yang tidak.


Begitu masif dan derasnya informasi yang kita terima, terutama dari media-media seperti televisi, media sosial dan lain sebagainya, bila tidak barengi dengan penyaringan yang baik bukannya menjadikan kita bertambah cerdas, malah bisa-bisa menjadi sebaliknya. Jadilah bodoh di zaman berkelimpahan ilmu pengetahuan atau malah menjadi gila di zaman di mana orang-orang berlomba-lomba untuk menjadi waras. 


Jadi, jihad di zaman now adalah jihad memerangi diri kita sendiri, yakni jihad melawan kebodohan agar kita senantiasa menjadi orang yang waras, tidak gila.


Wassalam...

Minggu, 15 September 2019

Santri, Kitab Kuning dan Keberkahan



Dimanakah Anda mengenal pertama kali kitab kuning? Mungkin sebagian besar akan menjawab ketika berada di pesantren. Ya, kitab kuning dan pesantren memang dua hal yang tidak bisa dipisahkan, selain dari beberapa unsur lainnya, seperti asrama/pondok, Kiyai, santri dan masjid/mushalla sebagai pusat kegiatan ibadah, pembelajaran, maupun kegiatan keagamaan lainnya.

Kitab kuning atau kitab klasik (al-kutub al-shafra' atau al-kutub al-qadimah) dikalangan pesantren dikenal dengan ‘kitab gundul’ karena tidak menggunakan baris atau harokat. Sebagai seorang santri menenteng kitab kuning ketika berangkat ke kelas atau ke pengajian merupakan kebanggaan tersendiri. Wajar saja, karena kitab kuning merupakan elan vital yang menjadi ciri khas dalam tradisi akademik pesantren.

Kitab kuning sangat dihormati, ia dijadikan sebagai acuan berfikir dan bertingkah laku dikalangan santri di pesantren dan dianggap paling absah. Kitab kuning juga dianggap sakral, ia diletakkan ditempat yang tinggi, dibawa dengan diletakkan di atas dada, dicium setelah dibaca, hal ini karena kitab kuning ditulis oleh ulama dengan kualifikasi ganda, keilmuan yang tinggi dan hati yang disinari cahaya Ilahi. Karena itulah menghormati orang yang berilmu dan memuliakan karya-karya mereka adalah hal yang diharuskan dalam dunia pesantren.

Mengkoleksi kitab kuning, menyusunnya berjejer dengan rapi dan memajangnya di rak pribadi apalagi cetakan Beirut, bagi santri atau mereka yang pernah bersekolah di pesantren adalah pemandangan yg sering kita lihat. Selain mengharap berkah, barangkali ini adalah semacam pengukuhan identitas diri di masyarakat, terutama pada masyarakat tradisional dan religius.




Tahun pertama berada di pesantren, kami belum diwajibkan mempelajari kitab kuning. Tahun pertama adalah kelas persiapan (tajhiziyah) sebelum memasuki jenjang Wustha (tingkat menengah). Melihat para santri pada tingkat yang lebih tinggi, menenteng kitab yang besar-besar ketika berangkat maupun pulang belajar membuat kami yang baru berada ditingkat awal ini merasa ngiri. Betapa keren dan gagahnya  mereka dalam pandangan kami sebagai santri baru. Rasanya tidak sabar inggin naik tingkat kelas supaya bisa juga menenteng kitab-kitab itu seperti mereka. Padahal saat itu belum terpikirkan apakah kami dapat membaca kitab-kitab itu nantinya.

Sebagian orang mungkin beranggapan bahwa, mereka yang bersekolah di pesantren semuanya pasti bisa membaca kitab kuning. Kenyataannya tidak. Selama enam atau tujuh tahun sekolah di pesantren tidak menjamin santri bisa dengan mudah membaca kitab kuning. Tanpa memahami dan menguasai ilmu-ilmu alat, seperti Nahwu, shoraf, ditambah dengan perbendaharaan kosa kata bahasa Arab yang memadai, dijamin orang tidak akan bisa dengan mudah membaca kitab kuning. 

Ilmu Nahwu selain hapalan titik tekannya adalah pada pemahaman. Ilmu shoraf juga pemahaman tapi titik tekannya pada hapalan, demikian juga bahasa, harus banyak-bayak hafal kosa kata, flus sering-sering latihan. Dengan menguasai ketiga disiplin ilmu inilah seorang santri kelak dapat membaca dan memahami kitab kuning. Untuk mendapatkan kemampuan dan pemahaman yang lebih bagus lagi para santri harus menambah lagi dengan pengetahuan pendukungya, yaitu; ilmu Mantiq dan Balaghah.

Begitulah, perlu bertahun-tahun bagi santri untuk dapat membaca dan memahami kitab kuning, itupun mesti harus dibarengi dengan kerja keras dan ketekunan yang mendalam. Karena itulah tidak jarang kita temui --artinya masih banyak-- santri yang relatif lama bersekolah di pesantren, namun penguasaannya dalam membaca dan memahami kitab kuning masih lemah.

Karena itulah guru-guru selalu menasehati kepada kami para santrinya agar senantiasa belajar dan terus mutalaah kalau benar-benar ingin bisa membaca dan memahami kitab kuning dengan baik. Jangan sampai seperti Alquran karam (bahasa Banjar, untuk menyebutkan Alquran yang sudah lusuh yang halamannya sebagian sudah tidak lengkap lagi). Dibaca kada kawa (dibaca tidak bisa, karena sebagian halamannya sudah hilang), dibuang mangatulahani (dibuang bisa bikin kualat). Artinya santri yang memilki ilmu yang tanggung hampir-hampir tidak ada gunanya di masyarakat nanti apabila sudah selesai di pesantren.




Namun, kata guru lagi, senakal-nakalnya orang yang pernah bersekolah di pesantren, masih ada batasannya. Maksudnya walaupun ia nakal, suatu saat dia pasti akan bertaubat dan akan menjadi orang baik. Begitulah cara guru-guru kami mendidik kami, do’a mereka selalu menyertai walau bagaimanapun keadaaan para santrinya, mereka tetap dido’akan supaya mereka mendapat keberkahan dalam hidupnya kelak.

Kami dan Kecintaan terhadap Tanah Air






Tentara Sekutu memasuki kota Bandung bulan Oktober 1945, para pemuda dan pejuang di kota Bandung sedang dalam pergulatan untuk melaksanakan pemindahan kekuasaan dan merebut senjata dan peralatan dari tangan tentara Jepang.

Tentara Sekutu menuntut supaya senjata-senjata yang diperoleh dari hasil pelucutan tentara Jepang dan berada di tangan para pemuda, diserahkan kepada Sekutu. Tanggal 21 November 1945, tentara Sekutu mengeluarkan ultimatum pertama, agar kota Bandung bagian utara selambat-lambatnya tanggal 29 November 1945 dikosongkan oleh pihak Indonesia dengan alasan untuk menjaga keamanan.

Ultimatum tersebut tidak diindahkan oleh para pejuang Republik, sehingga sejak saat itu sering terjadi insiden dengan pasukan-pasukan Sekutu. Batas kota bagian utara dan bagian selatan adalah rel kereta api yang melintasi kota Bandung.

Untuk kedua kalinya pada tanggal 23 Maret 1946 tentara Sekutu kembali mengeluarkan ultimatum. Kali ini supaya TRI mengosongkan seluruh kota Bandung.
Pemerintah RI di Jakarta memerintahkan agar TRI mengosongkan kota Bandung, tetapi sementara itu dari markas TRI di Yogyakarta datang intruksi lain, yaitu supaya kota Bandung tidak dikosongkan.

Akhirnya TRI di Bandung mematuhi perintah dari Jakarta walaupun dengan berat hati. Sebelum meninggalkan kota Bandung pejuang-pejuang Republik melancarkan serangan umum ke arah kedudukan-kedudukan Sekutu dan membumi hangus kota Bandung Selatan.

Jadilah kota Bandung bagian selatan dibakar menjadi lautan api oleh para pejuang sebelum meninggalkan kota Bandung pada tanggal 23 Maret 1946. Peristiwa ini dikenal sebagai “Bandung lautan api”. Oleh seniman terkenal Ismail Marzuki diabadikan dengan suatu mars perjuangan yang sangat terkenal, ‘Halo-Halo Bandung”.

Halo, Halo Bandung,
Ibukota Pariangan,
Halo, Halo Bandung,
Kota kenang-kenangan.

Sudah lama beta,
Tidak bejumpa dengan kau,
Sekarang telah menjadi lautan api,
Mari Bung rebut kembali.

Ketika masih sekolah dasar kami dengan semagat kami menghapal lagu-lagi wajib yang di ajarkan di sekolah. Lagu-lagu perjuangan kami nyanyikan dengan penuh semangat, temasuk mars Halo, halo Bandung ini.

Masalahnya, kami anak-anak Kalimantan yang sebagian besar dari suku Dayak dan Banjar tidak mengenal istilah 'beta' atau 'bung'. Jadilah ketika menyanyikan bait terakhir lagu Halo, Halo Bandung yang mestinya: "Mari Bung rebut kembali", malah terpeleset menjadi berbunyi: "Maribung ribut kembali..." Dengan peninggikan pada bunyi bung dan but..nya.

Sebenarnya bukan itu saja lagu-lagu perjuangan yang kami sering terpeleset dalam penyebutnya, misalnya lagu Garuda Pancasila, pada bait: "Pribadi Bangsaku" alih-alih menyebutnya "pribadi bangsaku, kami justeru menyebutnya dengan: "Ribang-ribang satu..." Masih lagu yang sama, yang seharusnya dinyanyikan dengan: "Akulah pendukungmu", kami justeru menyanyikan dengan: "Akulah panduku muu.."

Sekalipun kadang tersalah menyebut dalam menyanyikan, tapi tidak mengurangi semangat kami untuk mencintai negeri ini. Kami selalu bersemangat menyanyikannya dalam setiap kesempatan, walaupun ketika itu kami belum tahu bahwa Ibukota negara akan dipindahkan ke Kalimantan...





Minggu, 03 Februari 2019

Ngalap Berkah Ala Santri


Kita yang pernah belajar di pesantren tentunya tidak asing lagi dengan istilah berkah. Misalnya yang paling kita ingat adalah ketika berebut sisa makanan atau minuman para guru kita.




Kata berkah atau dalam bahasa arab barokah berarti 'bertambah'. Ungkapan lainnya adalah 'tabaruk' atau 'tabarukan', yang bisa diatrikan 'mengambil' atau 'mencari berkah'. Ngalap berkah dalam istilah Jawanya.

Berkah atau barokah dalam bahasa Arab diartikan dengan ziyadatul khair, yaitu bertambahnya kebaikan pada diri seseorang. Adapun makna barokah dalam Alquran dan sunnah adalah langgengnya kebaikan.

Dalam praktiknya, usaha santri dalam meraih keberkahan tidak hanya dengan belajar saja, artinya yang berkaitan dengan keilmuan saja. Tetapi juga dalam bentuk seperti yang disebutkan tadi di atas, bisa juga dalam bentuk berziarah ke makam guru, kiai atau orang alim, berdo'a, mengaji, atau tahlilan.

Tabarukan, mengambil berkah juga bisa minta do'akan kepada guru, kiai atau orang alim tadi, karena kaum santri meyakini bahwa do'a mereka mustajab lantaran kezuhudan dan kealimannya. Nilai dan restu dari guru, kiai dan orang alim bagi para santri tidak bisa ditukar dengan materi.

Mencium tangan para guru, kiai atau orang alim juga bentuk tabarukan lainnya yang dilakukan oleh kaum santri. Tidak hanya sampai di situ, bahkan menyusun atau menata sandal (alas kaki) dengan menghadapkannya ke arah guru, kiai atau orang alim ketika mereka ke masjid atau di suatu majlis.



Bahkan, dalam kebiasaan santri, keberkahan juga bisa dikaitkan dengan membawa oleh-oleh ketika acara selamatan atau hajatan selesai dilaksanakan.


Jangan Terperdaya oleh Latah Musiman


Beberapa tahun dahulu beredar di tengah-tengah masyarakat sebuah ungkapan "Banyak anak banyak rezeki." Ungkapan itu sedikit banyaknya mempengaruhi pandangan masyarakat awam perihal ‘memproduksi’ keturunan. Dalam konteks dahulu, pandangan seperti itu mungkin sah-sah saja. Karena pada masa itu tenaga manusia memang sangat diperlukan untuk membuka lahan yang masih luas dan tidak terbatas.

Mereka yang mempunyai anak yang banyak, apa lagi laki-laki, tentu akan sangat membantu orang tuanya, ikut membuka lahan, menanami, makin banyak lahan yang ditanami, makin banyak rezeki yang di dapat. Di sini berlaku, banyak anak, banyak rezeki.

Lain dulu, lain sekarang. Kalau dulu orang punya anak banyak, akan berkelimpahan rezeki. Zaman sekarang itu mungkin tidak begitu relevan lagi. Bisa saja banyak anak, bukannya rezeki yang didapat tetapi malah bencana, atau malah bisa membikin bangkrut, apabila anak-anaknya tidak mendapatkan pendidikan yang mamadai.

Saat ini di pedesaan, apalagi perkotaan, tanah dan lahan yang dimiliki oleh masyarakat tidak seluas dulu lagi. Tanah dan lahan yang dahulu subur kini sudah beralihfungsi menjadi tempat pemukiman yang padat. Kalaupun masih dalam bentuk lahan, itupun tidak dimiliki sepenuhnya oleh para petani. Kebanyakan lahan sudah dikuasai oleh korporasi. Jadilah masyarakat hanya sebagai buruh dari lahan-lahan yang dahulunya kepunyaannya itu.

Pekerjaan makin sulit didapat. Lahan makin sempit. Itulah yang dirasakan masyarakat kelas bawah saat ini. Mereka yang punya tanggungan keluarga lebih banyak tentu harus berpikir keras untuk dapat menghidupi keluarganya. Itu baru untuk menghidupi lho, belum lagi kalau berbicara masalah pendidikannya. Dapat dibayangkan bagaimana susahnya.

Pertumbuhan penduduk dari tahun ke tahun terus meningkat. Umat manusia sudah sangat banyak, bumi ini sudah semakin sesak. Manusia yang dilahirkan lebih banyak dari manusia meninggal. Jadilah bumi yang satu-satunya ini sebagai tempat kehidupan menjadi rebutan. Yang kuat menindas yang lemah, yang kaya menindas yang miskin, jadilah yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin, karena ketiadaan pemerataan. Bukan karena bumi dan alam ini tidak mampu menyediakan kebutuhan penghuninya, masalahnya adalah, kekayaan yang dimilikinya hanya dikuasai oleh segelintir manusia rakus yang tidak pernah puas kecuali bumi (baca tanah) itu sendiri yang diciumkan ke hidung mereka.

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat itu ternyata hanya sebuah selogan belaka. Dulu di masa orde baru, ketika kami masih sekolah SD, sambil berdiri tegak dan bersuara lantang, kalimat inilah yang kami dengungkan setiap pagi sebelum belajar dimulai. Namun, justeru rezim itulah yang menggasak kekayaan alam ini selama lebih dari 3 dasawarsa. Keadilan itu bukan bagi seluruh rakyatnya, tapi bagi antek-anteknya.

Setelah cengkraman rezim itu berlalu, asa untuk mendapatkan kedilan itu kembali bertunas. Namun harapan tinggal harapan, kenyataannya keadilan tak kunjung tiba. Dulu saja, ketika semua orang mulai dari para elit sampai rakyat jelata, hapal di luar kepala sila-sila itu hingga sila ke lima, itupun, mereka tak perduli kepada rakyat. Apalagi kini, mereka, para elit penyelenggara negara itu justeru tak hapal dasar negara. Ah, kita ragu semua itu. Jangan-jangan keadilan itu hanya sebagai alat pemanis kata untuk meninabobokan kita.

Hutan-hutan digunduli, isi bumi di kuras habis-habisan. Tambang batu bara, minyak bumi, batu besi, timah, emas, dan lain-lain, siapa penikmatnya? Segelintir orang. Lalu rakyat dapat apa? Dari dulu rakyat hanya dapat asap polusi dari pembakaran hutan. Rakyat harus puas dengan menghirup asap dan debu batu bara. Rakyat harus menanggung derita karena ancaman banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau. Sekali lagi di mana letak keadilan.

Sudah berapa kali berganti kepala negara, adakah yang berubah dari rakyat jelata? Sudah berapa kali berganti pemimpin adakah yang berubah dari kita? Dari pemilu ke pemilu, kita merangkai asa di dalam bilik keramat itu untuk mendapatkan pemimpin yang adil. Dari pemilu ke pemilu juga kita ditipu mentah-mentah oleh mereka.

Kini hajatan akbar itu hampir tiba, seperti biasa rakyat kembali di elu-elukan. Tiba-tiba saja mereka seolah dekat dengan rakyat. Segala cara di tempuh hanya untuk mendapatkan suara rakyat. Semua daya dan upaya dikerahkan, tak perduli hukum dan tatak rama, semuanya di langgar, asal dapat mendulang suara. Berita-berita hoax dihembuskan. Isu dan fitnah disebarkan. Ketenangan rakyat diobok-obok. Mereka yang dulunya hampir tak kenal agama, tiba-tiba bersuara lantang tentang agama. Ah, begitukan pemimpin yang akan kita pilih dan memimpin kita lima tahun kedepan?

Tiba-tiba saja simbol-simbol keislaman bermunculan, lihatlah; Kiai, santri, tauhid, ulama, masjid, dan lain-lain menjadi ramai diperbincangkan. Kalau perlu orang yang di dalam kuburan pun mereka bangunkan demi syahwat berkuasa. Simbol-simbol agama yang harusnya sakral itu dipolitisasi sedemikian rupa.

Sudahlah, kita jangan lagi terperdaya oleh latah musiman itu.


Selasa, 13 November 2018

CARA KAMI 'MENCIPTAKAN' KEBAHAGIAAN


Di daerah kami Kalimantan, Saat menanan atau mengetam padi para petani biasanya melakukannya bersama-sama (bergotong royong) dengan melibatkan banyak orang.  Laki-laki, perempuan, tua, muda, bahkan anak-anak beramai-ramai pergi ke pahumaan (sawah) ketika musim tanam atau musim panen tiba.  Musim tanam dan musim panen biasanya tidak serempak antara satu kampung dengan kampung lainnya.  Sekalipun mayoritas petani menanam menyesuaikan dengan keadaan alam (sawah tadah hujan). Sawah-sawah yang berada di daerah dekat dengan aliran sungai utama biasanya memulai menanam agak lebih lambat dari sawah-sawah berada lebih jauh. Hal ini dipengaruhi oleh ketersediaan air di sawah-sawah mereka.

Petani-petani yang padinya sudah siap ditanami atau dipanen mengambil jasa dari kampung lain yang belum masanya menanam atau memanen. Atau, bisa juga mereka datang sendiri ke kampung-kampung menawarkan jasanya. Siklus yang tidak merata ini tentu saja memudahkan para petani, terutama bagi mereka yang memerlukan banyak tenaga dan, tentu saja menambah pemasukkan bagi pemberi jasa (pambilupahan), termasuk bagi para buruh tani.

Begitulah suatu penomena biasanya melahirkan penomena lain yang menjadi turunannya. Berkumpulnya orang-orang terutama muda mudi sering kali dimanfaatkan sebagai ajang perkenalan atau pencarian jodoh. Sering kali para muda mudi mendapatkan jodohnya melalui peristiwa musiman ini. Di kampung-kampung jarang sekali ada perkumpulan-perkumulan yang dapat mempertemuan laki dan perempuan, terutama para muda mudi.  Pada awalnya mungkin mereka hanya berkenalan saja, atau bahkan hanya selorohan saja oleh orang-orang untuk memanas-manasi, dan hal tersebut bisa membuat mereka terpancing, dan justeru itulah yang menjadikan mereka menemukan jodohnya.

Saya ketika masih kecil sering ikut kegiatan ini, menanam atau memanen, terutama bila dilaksanakan di tempat orang tua saya. Disamping rasa senang dan riang juga sebagai ajang belajar bagi saya agar terampil menggunakan alat-alat pertanian yang sangat tradisional. Saya belum berani ikut mambilupah karena kemampuan saya masih belum sehebat dan seprofesional orang-orang. Selain itu saya senang mendengar orang-orang sambil bekerja sambil berceloteh, bercerita ngalur ngidul, menyerempet kesana kemari, sambil diiring dengan canda tawa hingga payah bekerja di tengah terik matahari tidak begitu terasa.

Masyarakat kami (sebagian besar suku Banjar dan Dayak) memang pandai bercanda, membangun cerita dan tokoh emajener seperti yang terkenal dengan tokohnya si Palui. Ada banyak cerita, sebagian cerita ini terulang-ulang dikisahkan. Biasanya cerita yang sama diceritakan oleh orang yang berbeda melahirkan kelucuan terendiri. Atau malah sama sekali tidak lucu.

Diam-diam saya mendengarkan dan mencermati apa yang mereka bicarakan, jujur saja aku merasa terhibur dengan celotehan-celotehan itu. Tidak terasa hari sudah beranjak siang, pertanda istirahat dari bekerja sebentar lagi tiba. Kegiatan ini biasanya dimulai sejak pukul 07.00 dan berakhir sekitar pukul 12.00, atau lebih awal lagi. Sekitar pukul 10.00-han biasanya ada istirahat untuk makan-makan. Makanan yang disajikan bisa makanan ringan atau bisa juga makanan yang lengkap, nasi, sayur, plus lauk-pauk yang enak. Makan di tengah sawah, sehabis capek dari bekerja sungguh nikmat sekali, walaupun dengan lauk-pauk dan sayuran seadanya. Karena itulah para petani rata-rata porsi makannya banyak-banyak.

Dangdut adalah musik yang akrab menemani mereka saat bekerja. Kenapa musik dangdut? Karena lagu-lagu dangdut mudah dicerna sehingga tidak susah untuk diterima. Bahasanya yang lugas dan sederhana sangat mudah dipahami oleh masyarakat kelas bawah, seperti kami para petani. Irama musiknya yang sangat melankolik sangat cocok dengan kehidupan kami para petani dalam mengekspresikan kehidupan yang kami jalani.

Karena itulah ketika berangkat ke tempat kerja, baik ke sawah, kebun atau lainnya yang tidak bisa ketinggalan selain bekal, 'peralatan perang', serta rokok dan korek api, adalah radio kecil. Mereka setia mendengarkan channel-channel radio yang memutarkan (karena dahulu menggunakan kaset) lagu-lagu dangdut sebagai penghibur sambil bekerja. Saat ini yang dibawa bukan lagi radio, tapi HP yang bisa digunakan untuk memutar radio kesayangan atau memutar lagu koleksi mereka sendiri melalui aplikasi yang ada di handphone tersebut.

Begitulah, sesulit apapun dan seberat apapun suatu pekerjaan ternyata ada cara-cara tersendiri yang bisa dilakukan untuk menciptakan kebahagiaan. Begitupun pula orang-orang yang telah saya ceritakan di atas. Mereka telah menciptakan kebagiannya sendiri tak perduli apa yang terjadi yang penting bisa bekerja dan menghasilkan, orang Banjar mengatakan “asal dapur haja kawa bakukus,” artinya masih ada yang bisa dimasak yang berarti bahwa perut bisa kenyang, yang berarti juga bisa menyambung hidup untuk hari esok.

Sabtu, 23 Desember 2017

BELAJAR SEPANJANG HAYAT


Photo: Eksklusif

Mungkin sebagian kita berpandangan bahwa belajar hanya ketika berada di bangku sekolah, ketika sudah tidak bersekolah lagi atau ketika libur sekolah, maka aktifitas belajar juga berhenti. Sebagai contoh, ketika akan libur sekolah atau libur kuliah, semua kita merasa senang dan bergembira, karena aktifitas belajar untuk sementara berhenti.

Ya, hal semacam itu mungkin sah-sah saja, karena ketika bersekolah atau berkuliah kita mendapat beban yang berat disebabkan oleh tugas-tugas sekolah dan kuliah yang banyak, dan kita untuk sementara meninggalkan aktifitas itu, rehat sejenak untuk merefres otak kita. Namun apakah kita juga harus menghentikan aktifitas kita untuk belajar? Benarkan bahwa belajar itu hanya ketika berada sekolah saja atau di perkuliahan saja?

Belajar itu sebenarnya tidak hanya di lembaga formal saja, artinya belajar itu tidak hanya di bangku sekolah atau di kuliah saja, namun belajar itu bisa dilakuan di lembaga-lembaga pendidikan non formal yang diadakan oleh masyarakat ataupun lembaga-lembaga masyarakat. Belajar tidak terbatas hanya di suatu institusi tapi bisa saja berada di dalam perkumpulan orang-orang, kelompok diskusi atau malah belajar sendiri dari sumber informasi, berupa terbitan buku, majalah atau media massa baik itu berupa media cetak ataupun elektronik atau yang lagi ngetren saat ini, internet.

Belajar juga bisa kita lakukan dengan mendatangi pengajian-pengajian atau majlis-majlis taklim, karena di pengajian atau di majlis taklim kita dapat menambah pengetahuan dan keyakinan agama. Selain itu kita dapat bersilaturrahmi dengan sesama untuk meningkatkan ikatan persaudaraan (ukhuwah islamiyah).

BELAJAR SEPANJANG HAYAT

Marilah kita lihat misalnya Suyono dan Hariyanto dalam bukunya Belajar dan Pembelajaran menyebutkan bahwa teori sains terakhir mengungkapkan bahwa calon manusia telah mulai belajar saat jutaan sperma berjuang mencapai ovum dalam uterus. Jutaan sperma itu seolah saling berebut, berlomba mencapai ovum, banyak diantaranya yang gugur di tengah jalan. Uniknya, satu atau dua sperma (pada kasus kembar tidak identik) mencapai ovum dan terjadi konsepsi, sisa ribuan sperma yang lain mati dan menjadi nutrisi bagi ovum yang telah dibuahi. Demikianlah calon manusia ini telah belajar berjuang, beradaptasi, bersaing, tetapi juga bekerja sama dan berkurban untuk kepentingan sesama.

Selanjutnya dalam ajaran Islam sendiri telah digambarkan dengan jelas, bahwa belajar itu adalah sepanjang hayat; artinya bahwa manusia ini belajar sejak ia berada di dalam kandungan, buaian, tumbuh dan bekembang dari anak-anak menjadi remaja, menjadi dewasa, hingga sampai ke liang lahat.

Belajar memang seharusnya dari buaian hingga ke liang lahat; minal mahdi ilaal lahdi, from cradle to the grave. Kata bijak dari Cina misalnya, juga mengatakan; “jika kamu ingin berinvestasi sepanjang hayat, tanamlah manusia.” Hal ini mungkin bisa dikaitkan lagi dengan hadits nabi Muhammad Saw yang berbunyi: Jika seorang anak Adam meninggal, maka seluruh amalannya terputus kecuali dari tiga hal; Sedekah Jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang sholeh yang senantiasa mendo’akannya (HR.Muslim).

Belajar sepanjang hayat adalah belajar terus menerus dan berkesinambungan dari buaian sampai akhir hayat. Dengan terus menerus belajar manusia akan mendapatkan ilmu pengetahuan, dengan ilmu pula manusia bisa lebih bijaksana dalam menjalani hidup dan dengan ilmu pula manusia ditinggikan derajatnya; “Allah meninggikan orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan beberapa derajat” (Q.S. Al-Mujadalah; 11).

Jadi, sejatinya belajar adalah sepanjang hayat, belajar untuk terus-menerus memperbaiki prilaku kita, dan terus menerus meningkatkan kualitas hidup agar menjadi lebih baik. Kebaikan yang kita dapatkan melalui belajar itu tentunya tidak hanya yang berhubungan dengan Tuhan saja, tetapi juga bagaimana kebaikan yang kita dapatkan itu bisa menyebar di lingkungan dimana kita berada.

Selamat berlibur, dan teruslah belajar, semoga kita dapat menebarkan kebaikan dimanapun kita berada.

Leasure without study is death (waktu luang yang tidak digunakan untuk belajar sama dengan kematian) –Lucius Annaeus Seneca (4 SM-65 M)

Jumat, 22 Desember 2017

TUHAN, SIAPAKAH AKU?

Aku terperanjat.. 
mataku melotot seolah mau keluar.. 
Darahku bergejolak.. 
Otakku seolah-olah mau keluar..
meletus melalui ubun-ubun ku. 
Segenap persendianku seakan mau lepas, tercerai berai.

Aku ingin berteriak sekencang-kencangnya..
biar seluruh makhluk di alam ini mendengar suara ku.. membahana menembus angkasa. 

Aku seolah menciut sekecil-kecilnya.. 
hingga tak tampak oleh pandangan mata..
namun, aku masih ada terperangkap diantara takdir-Mu.

Aku sangat takut.. 
sehabis-habis takut.. 
Aku terseok-seok dalam ketidakpastian dan ketidakmenentuan. 

Aku dibelenggu oleh takdirku. 
Aku seolah-olah terlempar dan tercampak ke dalam kehinaan  yang sehina-hinanya. 
Aku lemah terkulai tidak berdaya, pasrah sepasrah-pasrahnya.

Oh Tuhaaan…
Mengapa Engkau ciptakan aku sebagai manusia. 
Mengapa Engkau ciptakan aku sebagai seorang yang lemah yang tidak dapat berbuat apa-apa. 
Kenapa aku harus tunduk dan patuh dengan ketentuan-Mu. 
Aku terperangkap dalam takdirku yang menjadi ketentuan-Mu. 
Kenapa tidak Kau ciptakan saja aku seperti diri-Mu. 
Kau takut tersaingi ya. 
Kalau kau tidak takut, ciptakan saja aku seperti-Mu.. 
jadikan saja aku kekal abadi sepertimu.

Tapi biarlah..
mungkin Engkau tak mau. 
Siapalah aku ini.. 
hanya sebutir pasir di tengah sahara..
Engkau ciptakan tanpa ada yang istemewa.

IBU

Ibu, Di usia senjamu tidak jua pernah pudar kasih sayangmu kepadaku.
Ibu, betapa beruntung aku masih bisa merasakan hangatnya dekapanmu.
Ibu, tangamu yang sudah keriput dan tak lagi lembut seperti dulu, ku rasa tak berubah sedikitpun hangatnya saat kau usap dan kau elus kepalaku.


Ibu, ketika ku pulang jauh dari perantauan, ketika ku pejamkan mataku, merebahkan kepalaku di pangkuanmu, dalam pejam mataku, anganku menerawang jauh kebelakang.

Betapa engkau adalah pahlawanku, merawat, membimbing, guru sejati yang mengajari benar-benar tentang arti hidup.

Walau, tak terhitung lagi berapa banyak kekecewaan yang engkau dapat karena olah anakmu ini, tiada jua memudar kasih sayangmu.

Ibu, engkau adalah pejuang sejati, apapun rela kau lakukan demi anakmu ini, tetapi apa jua yang bisa ku balas untuk semua itu, tidak ada…

Diusia senjamu, apa yang dapat aku lakukan untukmu, tidak banyak….sedikit sekali, jauh terlampau banyak pengorbananmu untukku.
Kini malah aku lebih banyak memikirkan tentang pekerjaanku, tentang keluargaku, daripada memikirkan tentang keadaanmu.
Tak terasa, mengalir air mata ini, betapa kasih sayangmu tak bisa kulukiskan dengan apa juapun. Tercekat lidah ini, kerongkongan rasanya kering, jauh di dalam dada sana, seolah ada sesuatu yang ingin membuncah seandainya tidak kusadari bahwa aku bukan anak-anak lagi.

Rabu, 20 Desember 2017

BIJAK MENYIKAPI PERBEDAAN

Perbedaan pendapat merupakan penomena yang telah ada sejak diciptakannya manusia. Bahkan antar dua orang manusiapun sudah terjadi perbedaan pendapat. Perbedaan dapat terjadi dalam seluruh aspek kehidupan manusia tidak terkecuali masalah agama dan keyakinan. Perbedaan adalah keniscayaan, sedangkan persatuan adalah keharusan yang harus diwujudkan.

Keragaman dan perbedaan adalah hal yang tidak dapat dihindari, namun di saat yang sama kita sebagai manusia dituntut untuk hidup bersosial. Sebagai makhluk sosial kita harus saling bantu membantu antar sesama. Disinilah pentingnya bagi kita untuk dapat membedakan antara perbedaan dan perselisihan. Perbedaan seharusnya tidak menjadikan kita saling berselisih.

Namun perbedaan seringkali disalah-artikan. Perbedaan bahkan bisa menjadikan bencana apabila menjadi sebuah perselisihan. Bahkan hal ini bisa menjadi lebih parah apabila salah satu kelompok menganggap kelompok yang lain salah dan hanya kelompoknya saja yang benar.

Kalau kita mau berkaca kepada sahabat-sahabat besar Nabi seperti Abu Bakar, Umar bin Khaththab, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas'ud, Zaid bin Tsabit ra. Memiliki pandangan yang berbeda dalam sekian masalah. Demikian juga imam-imam besar kaum muslimin seperti Imam Malik bin Anas, Muhammad bin Idris asy-Syafi'iy dll., tidak selalu sepakat dalam memahami atau menetapkan hukum satu kasus, tapi tidak menjadikan persaudaraan mereka luntur.

Perbedaan pendapat ulama masa lalu tidak menjadikan mereka saling tuding, saling mengkafirkan. Perbedaan justru bahkan menjadikan mereka saling menghormati dan mengakui kelebihan pihak lain.

Kitab Ta'lim al-Muta'allim dan Pengakuan Dunia

Photo: Google.com

Bagi Anda yang pernah belajar di pesantren tentu tidak asing lagi dengan kitab kuning yang satu ini, kitab Ta'lim al-Muta'allim. Pengarangnya adalah Imam Az-Zarnuji. Beliau adalah seorang ahli hukum mazhab Hanafi yang menetap di Khurasan dan Transoxania pada akhir abad ke 12. Beliau berasal dari wilayah Zarandj, sebuah kota di Sidjistan. Dari sudut pandang sejarah, az-Zarjuzi layak dianggap sebagai seorang figur intelektual periode awal abad pertengahan Islam (945-1250 M).

Popularitas kitab ini diakui oleh ilmuan modern seperti Khalik A. Totah dan Mehdi Nakostreen, ketika keduanya menyelidiki khazanah pendidikan Islam baik abad klasik maupun pertengahan. Keduanya menyebutkan bahwa kitab Ta'lim al-Muta'allim adalah kitab paling terkenal dalam bidang pendidikan.


Az-Zarnuji juga diberikan pujian karena kitab Ta'lim-nya memberikan sumbangan berupa kerangka konseptual mengenai landasan epistemologis pendidikan Islam. Munculnya edisi brosur az-Zarnuji tentang pendidikan murid Ta'lim al-Muata'allim pada tahun 1907 telah menarik perhatian ilmuan-ilmuan Eropa. Kitab ini juga menjadi inspirasi bagi sejumlah edisi kitab dan karya yang sejenis mulai diterbitkan. Selain itu, semenjak publikasi risalah az-Zarnuji tertang pendidikan Risalah Ta'lim Muta'allim, para orientalis mulai sadar terhadap nilai-nilai prinsip pendidikan Islam.


Dari capaian prestasi karya intelektual az-Zarnuji ini, pada periode berikutnya kitab Ta'lim telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan menjadi literatur penting dalam daftar bibliografi dan footnote karya-karya ilmiah Barat tentang pendidikan Islam yang diterbitkan akhir-akhir ini.


Mungkin kita patut berbangga karena pernah mempelajari kitab legendaris yang tidak hanya terkenal di kalangan pesantren ini tetapi juga mendunia. Hiduup santriiii..

Senin, 18 Desember 2017

DULU DAN SEKARANG

DULU DAN SEKARANG


Di era serba modern ini hampir semua permainan tidak ada yang gratis. Lihatlah mobil-mobilan, boneka-bonekaan, game online, PS, Game Watch, X box dan lain-lain. Anak-anak terbiasa duduk lama di depan layar komputer, TV serta gadget, sehingga menyebabkan mereka kehilangan kepekaan terhadap stimulasi alami. Aktifitas di luar rumah anak semakin berkurang, pergerakan, sentuhan dan hubungan dengan individu lain juga semakin berkurang. Efek buruknya adalah menyebabkan anak ketergantungan terhadap teknologi.

Kemudahan-kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi menyebabkan anak berpikir dangkal, cepat puas, tidak mau berusaha keras, tidak sabar dan tidak tahan dengan kesulitan hidup. Selain itu kurangnya aktifitas di luar rumah menjadikan anak anti sosial. Kurangnya bersosialisasi menyebabkan anak sangat dangkal dalam menjalin relasi, sehingga menjadikan anak kurang berkomunikasi dengan teman sebayanya, atau cenderung bersifat individualistis. Nilai-nilai kebersamaan yang seharusnya ditanamkan sejak dini berangsur-angsur sirna dari kehidupan anak. Sedikit sekali waktu yang dapat digunakan anak untuk bercengkrama dengan sesamanya. 
                
Saya merasa bersyukur karena masa kecil saya hidup di lingkungan pedesaan yang terpencil, jauh dari hiruk-pikuk kehidupan manusia urban (perkotaan). Di kampung saya, jarak dari satu rumah dengan rumah penduduk lainnya saling berjauhan. Saya dan anak sebaya di kampung,  kami terbiasa hidup bebas tanpa ada aturan-aturan yang ketat seperti anak-anak yang hidup di kota. Kami bebas hendak pergi kemanapun; masuk dan keluar hutan, menangkapikan di sungai atau di rawa yang sudah mulai kering, menjebak burung, naik ke atas pohon, memetik buah-buhan yang tumbuh hutan, memakannya sampai kenyang dan berak pula di bawahnya.

Ketika hujan tiba kami bebas berhujan-hujan ria, main perosot-perosotan di tepi sungai yang landai berkubang dengan lumpur. Sebagian lagi main kapal-kapalan dengan gedebung pisang atau dengan pelepah pinang serta pelepah kelapa. Tidak ada yang melarang, karena jarang sekali kami sakit hanya karena hujan-hujanan. Kegiatan seperti ini hanya bisa terhenti apabila kami sudah merasa kecapaian dan kelelahan dan gemeretak gigi karena menggigil menahan dingin.

Ketika musim kemarau kami bermain layang-layang yang kami buat sendiri dari batang bambu yang banyak tumbuh disekitar kampung. Kami berlarian di pematang-pematang sawah yang padinya sudah mulai menguning. Permainan lainnya adalah bermain balogo (permainan tradisional masyarakat Banjar) yang kami buat sendiri dari tempurung kelapa tua atau bermain tali, yang talinya kami ambil dari tumbuhan merambat di tepi sawah atau dipinggir hutan dekat perkebunan kelapa.


Itu adalah kenangan yang saya rasakan sebagai seorang anak kampung yang hidup pada era tahun 80-han. Sangat menyenangkan dan tak dapat terlupakan. Di sana nilai-nilai kebersamaan, kejujuran, kekelompokkan, kerjasama, keuletan dan olah fisik dipupuk.