Aku terperanjat..
mataku melotot seolah mau keluar..
Darahku bergejolak..
Otakku seolah-olah mau keluar..
meletus melalui ubun-ubun ku.
Segenap persendianku seakan mau lepas, tercerai berai.
Aku ingin berteriak sekencang-kencangnya..
biar seluruh makhluk di alam ini mendengar suara ku.. membahana menembus angkasa.
Aku seolah menciut sekecil-kecilnya..
hingga tak tampak oleh pandangan mata..
namun, aku masih ada terperangkap diantara takdir-Mu.
Aku sangat takut..
sehabis-habis takut..
Aku terseok-seok dalam ketidakpastian dan ketidakmenentuan.
Aku dibelenggu oleh takdirku.
Aku seolah-olah terlempar dan tercampak ke dalam kehinaan yang sehina-hinanya.
Aku lemah terkulai tidak berdaya, pasrah sepasrah-pasrahnya.
Oh Tuhaaan…
Mengapa Engkau ciptakan aku sebagai manusia.
Mengapa Engkau ciptakan aku sebagai seorang yang lemah yang tidak dapat berbuat apa-apa.
Kenapa aku harus tunduk dan patuh dengan ketentuan-Mu.
Aku terperangkap dalam takdirku yang menjadi ketentuan-Mu.
Kenapa tidak Kau ciptakan saja aku seperti diri-Mu.
Kau takut tersaingi ya.
Kalau kau tidak takut, ciptakan saja aku seperti-Mu..
jadikan saja aku kekal abadi sepertimu.
Tapi biarlah..
mungkin Engkau tak mau.
Siapalah aku ini..
hanya sebutir pasir di tengah sahara..
Engkau ciptakan tanpa ada yang istemewa.
Tampilkan postingan dengan label Suara Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Suara Hati. Tampilkan semua postingan
Jumat, 22 Desember 2017
WAHAI PESANTREN
Wahai pesantren..
Walaupun keberadaanmu tidak diperhitungkan, tetapi kontribusimu nyata buat kehidupan.
Berabad usiamu, laksana sang tua renta yang tertatih dipersimpangan zaman.
Eksismu hari ini adalah bukti sebuah perjuangan untuk tetap hidup, menentang, menebas dan melintas roda zaman.
Tetaplah waspada memandang hiruk pikuk dan hingar bingarnya dunia.
Teruslah kau melangkah, berjalan, tak peduli sampai batas mana, sampai kelak tuhan sendiri yang menentukan.
Kami para santri yang lahir dan telah dibesarkan dari rahimmu, selalu siap dan setia merawatmu dan melestarikan tradisimu. Sebagaimana kami merawat dan mengawal 4 pilar bangsa ini; Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhineka Tunggal Ika.
Kami siap berdiri di garis depan berjuang mengisi kemerdekaan dengan tetap berpegang teguh pada akidah, ajaran, nilai dan tradisi Islam, Ahlussunnah wal Jama'ah.
Walaupun keberadaanmu tidak diperhitungkan, tetapi kontribusimu nyata buat kehidupan.
Berabad usiamu, laksana sang tua renta yang tertatih dipersimpangan zaman.
Eksismu hari ini adalah bukti sebuah perjuangan untuk tetap hidup, menentang, menebas dan melintas roda zaman.
Tetaplah waspada memandang hiruk pikuk dan hingar bingarnya dunia.
Teruslah kau melangkah, berjalan, tak peduli sampai batas mana, sampai kelak tuhan sendiri yang menentukan.
Kami para santri yang lahir dan telah dibesarkan dari rahimmu, selalu siap dan setia merawatmu dan melestarikan tradisimu. Sebagaimana kami merawat dan mengawal 4 pilar bangsa ini; Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhineka Tunggal Ika.
Kami siap berdiri di garis depan berjuang mengisi kemerdekaan dengan tetap berpegang teguh pada akidah, ajaran, nilai dan tradisi Islam, Ahlussunnah wal Jama'ah.
IBU
Ibu, Di usia senjamu tidak jua pernah pudar kasih sayangmu kepadaku.
Ibu, betapa beruntung aku masih bisa merasakan hangatnya dekapanmu.
Ibu, tangamu yang sudah keriput dan tak lagi lembut seperti dulu, ku rasa tak berubah sedikitpun hangatnya saat kau usap dan kau elus kepalaku.
Ibu, ketika ku pulang jauh dari perantauan, ketika ku pejamkan mataku, merebahkan kepalaku di pangkuanmu, dalam pejam mataku, anganku menerawang jauh kebelakang.
Betapa engkau adalah pahlawanku, merawat, membimbing, guru sejati yang mengajari benar-benar tentang arti hidup.
Walau, tak terhitung lagi berapa banyak kekecewaan yang engkau dapat karena olah anakmu ini, tiada jua memudar kasih sayangmu.
Ibu, engkau adalah pejuang sejati, apapun rela kau lakukan demi anakmu ini, tetapi apa jua yang bisa ku balas untuk semua itu, tidak ada…
Diusia senjamu, apa yang dapat aku lakukan untukmu, tidak banyak….sedikit sekali, jauh terlampau banyak pengorbananmu untukku.
Kini malah aku lebih banyak memikirkan tentang pekerjaanku, tentang keluargaku, daripada memikirkan tentang keadaanmu.
Tak terasa, mengalir air mata ini, betapa kasih sayangmu tak bisa kulukiskan dengan apa juapun. Tercekat lidah ini, kerongkongan rasanya kering, jauh di dalam dada sana, seolah ada sesuatu yang ingin membuncah seandainya tidak kusadari bahwa aku bukan anak-anak lagi.
Langganan:
Postingan (Atom)
-
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Epistemologi disebut juga dengan filsafat ilmu, merupakan cabang filsafat yang mempelaja...
-
PROFIL PONDOK PESANTREN AL FALAH BANJARBARU KALIMANTAN SELATAN 1. Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Al Falah Pondok Pesantren...
-
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Periode Pranatal merupakan periode pertama dalam rentang kehidupan manusia dan merupakan...
-
Deskripsi diri adalah hal yang wajib dilakukan oleh seorang dosen (DIY) ketika mengajukan sertifikasi. Berikut adalah contoh deskripsi diri ...
-
Oleh: Muhamad Ramli, M.Pd. [1] ABSTRAK Al Qur’an adalah kitab suci umat Islam yang di dalamnya terkandung berbagai macam ilmu pe...
-
S alah satu hal yang paling saya takuti sebelum bersekolah di pesantren adalah kuburan. Kuburan bagi saya ibarat sarang hantu, tempat b...
-
Photo: Eksklusif Mungkin sebagian kita berpandangan bahwa belajar hanya ketika berada di bangku sekolah, ketika sudah tidak bersek...
-
Jihad Zaman Now Photo: Eksklusif B agaimana cara mengartikan jihad di zaman now? Sehingga tidak tersalah mengartikan jihad ha...
-
بَابُ الْكَلَامِ أرتى كلام اَلْكَلَامُ هُوَ اْللَفْظُ الْمُرَكَّبُ الْمُفِيْدُ بِاْلوَضْعِ كَلَامْ (كَلِمَةْ), ايت اد...