Tampilkan postingan dengan label PENGALAMAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENGALAMAN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Juni 2019

Tak Ada Sistem Zonasi di Pesantren



Yang agak ribet di pesantren setiap awal tahun ajaran baru adalah mengurusin santri baru. Salah satunya minta pulang, karena tidak betah atau belum kerasan, baik oleh anaknya maupun orang tuanya.

Suatu pagi seorang santri yang belum genap dua hari berada di pesantren mengetuk pintu rumah saya. Setelah saya membuka pintu, nampaklah sosok seorang santri dengan mata sembab, terisak-isak sambil menangis.

Saya: "Ada apa? Kok menangis?"

Santri: "Ijinkan saya pulang, sebentaaar saja ustadz."

Saya: "Kan kemaren sudah disampaikan bahwa santri tidak dibolehkan pulang kecuali, setelah tiga bulan dahulu di pondok".

Tetiba si Santri berjongkok, setengah tiarap dia memohon-mohon dengan menangis sekeras-kerasnya. 

"Ustaaaaad....saya mau pulang, saya mau pulaaang."

Sontak saja tetangga kanan kiri terkejut dibuatnya. Mereka kompak menanyakan: Apakah itu santri baru? Setelah saya mengiyakan, mereka memakluminya, sambil menutup tangan ke mulut kerena menahan tawa, mereka berpaling lagi ke dalam rumah. 

Akhirnya dengan beberapa nasihat si Santri bersedia untuk tidak pulang dahulu dan kembali ke asramanya dengan masih terisak setelah menangis keras.

Kurang lebih seminggu setelah kejadian itu, saya masuk kelas di mana si Santri berada. Saya melihat raut mukanya sudah jauh berbeda dari seminggu yang lalu. Terlihat lebih ceria. Saya tanyakan apakah masih ingin pulang ke rumah. Dia menjawab: Tidak ingin lagi, karena sudah merasa betah.

Tahun ini anak itu telah menyelesaikan pendidikannya di pesantren dengan beberapa prestasi, termasuk dalam bidang Bahasa Inggris.

Bagi orang tua yang tidak terlalu senang dengan sistem zonasi yang diterapkan oleh sekolah-sekolah saat ini, bisa memasukkan anaknya ke pesantren, karena di pesantren sistem itu tidak berlaku. Dengan syarat, siap-siap orang tua dan anaknya membendung air mata, menahan tangis...

Minggu, 03 Februari 2019

Saya, Hantu dan Kuburan


Salah satu hal yang paling saya takuti sebelum bersekolah di pesantren adalah kuburan. Kuburan bagi saya ibarat sarang hantu, tempat berkumpulnya para jin, setan dan segala hal yang menakutkan. Ketika berjalan di malam hari, tempat yang paling saya hindari adalah kuburan. Mimpi-mimpi yang paling horor bagi saya adalah tentang orang mati. Mendengar kabar tetangga meninggal saja, cukup membuat saya tidak keruan tidur semalaman.

Di ujung kampung, di desa kami, terdapat kuburan tua yang terkenal angker. Konon perilaku dan penampilan orang yang dimakamkan di kuburan itu ketika masih hidup sangat aneh dan ganjil.  Di pingang dan lehernya bergelantungan puluhan botol-botol kecil berisi berbagai minyak yang mempunyai kekuatan magis, mulai dari yang tahan terhadap senjata tajam (kebal) hingga dapat memiliki kekuatan super. Orang ini menggunakan kekuatan ilmu hitam.

Minyak-minyak itu, kami menyebutnya Untalan. Menggunakan Untalan untuk mendapatkan kesaktian, kekebalan dan sebagainya adalah hal yang lumrah di tengah masyarakat kami. Untalan adalah sejenis minyak yang dapat menjadikan orang yang menelannya menjadi sakti atau kebal.

Dalam kepercayaan masyarakat kami orang-orang yang menggunakan Untalan ini, apabila ia meninggal, jika tidak sempat dikeluarkan untalan tersebut dari dalam tubuh, maka bisa mengakibatkan orang itu mati dengan tidak wajar (mati jadi hantu). Ketidak-wajaran ini sudah terlihat tanda-tandanya sebelum si mayit dikuburkan. Ketika saat dimandikan atau ketika saat disalatkan. Puncaknya adalah pada senja hari pertama sejak ia dikuburkan. 

Menurut cerita, ketika senja tiba dari atas kuburan tua di ujung kampung kami itu keluar asap berwarna kekuningan. Itu adalah pertanda sang hantu akan keluar dari peraduannya. Karenanya saat senja hari yang berwarna kekuningan --terjadi sebelum atau sehabis hujan, kami dilarang keras keluar rumah, karena dipercaya iblis dan hantu berkeliaran saat itu.

Hari-hari pertama kematian, konon si hantu jadi-jadian akan menemui kerabat dekatnya. Di senja hari ia akan mengetuk pintu, dan memperlihatkan dirinya dalam bentuk yang mengerikan. Ia datang seolah ingin mengabarkan kepada kerabat tentang keadaan dirinya kini. Ia tidak akan beranjak dari rumah itu sampai kerabat atau keluarga yang didatangi mengatkan: "Sudah, saya sudah melihat kamu, jangan kembali lagi ke sini." Biasanya bila sudah mendengar itu ia akan menghilang dengan sendirinya dan tidak akan pernah kembali lagi.

Urang tua kami biasanya, menakut-nakuti kami dengan menyebut hantu si makam tua yang ada di ujung kampung itu. Tidak perduli siang atau malam, kami sangat takut ketika melewati makam itu. Ketakutan saya rupanya tidak hanya kepada makam tua itu, bahkan semua makam. Ketika sendirian melewati kuburan imajinasi tentang hantu berseleweran di kepala saya. Hingga mimpi-mimpi horor saya adalah tentang kuburan dan orang mati.

Ketika berada di pesantren, ada hal yang berbeda dalam persepsi saya tentang kuburan. Kuburan setidaknya tidak menakutkan seperti ketika masih berada di kampung. Di pesantren, tepatnya dibagian kiri setelah masuk pintu gerbang kedua, terdapat makam pendiri pesantren. Setiap subuh Jumat kami diajak berziarah ke makam beliau, atau, kalau tidak, dilakukan secara bergiliran. Beberapa asrama kena giliran subuh Jumat ini, beberapa asrama lainnya subuh Jumat berikutnya, begitu terus berputar. Di beberapa kesempatan saya berziarah sendiri di luar jadwal yang telah ditentukan ke makam mu'allim kami ini.

Selain berbeziarah ke makam pendiri pesantren, sehabis salat Jumat saya sering mampir berziarah ke makam orang alim di luar komplek. Di sini beberapa santri sering saya dapati juga berziarah seperti saya. Rasa-rasanya sejak inilah mulai tumbuh kecintaan berziarah di dalam diri saya. Bagi saya berziarah selain membaca Alquran, Tahlil dan berzikir adalah berdo'a. Berdo'a tidak hanya untuk orang yang diziarahi, tetapi juga berdo'a untuk diri sendiri, orang tua dan keluarga-keluarga saya.

Berdo'a di kubur orang-orang alim serasa lebih husuk di banding tempat-tempat lainnya. Di sini kuburan dibikin nyaman, sehingga orang-orang yang berziarah dapat betah berada di dalamnya. Beda sekali ketika masih di kampung dahulu, kuburan terletak di ujung kampung, berada di bawah pohon besar atau di dekat pohon bambu yang rimbun, gelap, penuh semak belukar, terkadang berada di rawa dan bernyamuk. Sehingga berada dikuburan bisa memancing imajinasi-imajinasi horor.

Begitulah, sampai saat ini berziarah merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kebiasaan saya, sekalipun tidak sesering dahulu. Pada beberapa kesempatan ketika berjalan-jalan bersama keluarga ke beberapa daerah di Kalimantan Selatan ataupun ke luar daerah lainnya, kami selalu menyempatkan diri untuk berziarah ke makam orang-orang alim, sekedar berdo'a ataupun mengharap berkah.

Begitupun pula ketika pulang kampung halaman, selain berkunjung ke keluarga yang masih hidup, kami juga berziarah ke kuburan keluarga yang telah meninggal dunia, mendahului kami.[]

Kuta Bataguh: Sebuah Kerajaan yang Hilang




Cerita tentang sebuah kota yang hilang (the lost city) yang kemudian ditemukan kembali dengan cara-cara yang tidak terduga. Berawal dari penemuan tembikar seperti dalam film The Lost City of Z, terjadi juga di kampung kami Handil Kota Kelurahan Pulau Kupang Kecamatan Bataguh Kabupaten Kapuas Kalimantan Tengah.

Kejadiannya hampir sama, sekitar akhir tahun 80-han, seorang petani pendatang yang keheranan setiap kali meratakan tanah atau membikin bedengan dengan peralatan tani tradisionalnya, seperti cangkul dan lain-lain menemukan berbagai macam jenis tembikar. Dengan iseng petani ini mencoba mengais-ngais tanah dan mencermatinya dengan seksama, tiba-tiba ia melihat pancaran cahanya kekuning-kuningan dari balik tumpukan tanah. Kemudian ia memungutnya untuk meyakinkan, ternyata betul saja, benda itu adalah emas, logam mulia yang sangat bernilai.

Kalau dalam film The Lost City of Z sang penemu, karena rasa penasaran membawanya pada penyelidikan. Penyelidikan menjelma menjadi petualangan. Petualangan melahirkan cerita untuk dikenang terlepas dari sang petualang berhasil atau gagal. Di sini justeru temuan artefak sejarah yang amat sangat bernilai ini diserbu oleh masyarakat beramai-ramai. Apalagi kalau bukan karena kilauan si logam mulia ini. Walaupun yang mereka kejar adalah emas, tetapi semua benda-benda peninggalan bersejarah itu ikut hancur seiring dengan makin meluasnya wilayah eksplorasi.

Sebenarnya penemuan yang tidak disadari tentang situs sejarah ini sudah jauh terjadi sebelum ditemukan emas yang kebanyakan dalam bentuk jadi atau dalam bentuk leburan itu. Hampir semua masyarakat disekitar situs mencabuti dan mengambil kayu ulin bekas benteng sisa peninggalan kerajaan yang disebut dengan ‘Kuta’ itu. Kayu-kayu itu sebagian telah dijadikan sebagai bahan membuat rumah oleh penduduk sekitar. Salahkan mereka? Saya kira kurang tepat dan agak terlambat mempersalahkan mereka.

Sebagian penduduk yang lahir belakangan di wilayah ini kurang begitu mengerti dengan sebutan ‘kuta’, banyak diantaranya mengartikan kata kuta dengan kota. Mereka mengira bahwa dahulunya di daerah ini merupakan sebuah kota yang kini sudah ditinggalkan oleh penduduknya entah ke mana. Padahal kata kuta sendiri bermakna benteng dalam bahasa Dayak. Kesalahan itu terlihat pada penulisan nama kampung kami dengan nama Handil Kota, bukan Hadil Kuta.

Beberapa tahun terakhir, setelah aktifitas ‘penambangan’ sudah tidak ada lagi, karena emas yang dicari sudah habis dan lokasi bekas penambangan sudah menjadi hutan kembali, beberapa orang Tim Arkeologi dari Balai Arkeologi Kalimantan Selatan bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalimantan Tengah datang meneliti situs Kerajaan Bataguh ini. Menurut hasil laporan dari penelitian, yang tersisa dari benteng dan benda-benda lainnya hanya sekitar 5 persen saja. Sementara 95 persenya diduga telah hilang atau bisa juga sebagiannya masih tertimbun di dalam tanah.

Menariknya, walaupun situs ini nyaris tidak tersisa tapi bekas-bekasnya dapat terlihat melalui poto satelit. Anda dapat melihatnya melalui aplikasi google map, bekas kerajaan tersebut terlihat bundar menyerupai telur dengan luas hampir 5.000 meter. Kalau melihat dari luasannya situs Kuta Kerajaan Bataguh ini merupakan penguasa besar. Jika dibandingkan dengan kuta yang lain seperti yang ada di Kabupaten Gunung Mas. Dari sejumlah artefak yang ditemukan oleh masyarakat setempat seperti alat kayu pemintal, manik-manik dan logam. Termasuk temuan artepak kayu ulin yang digali oleh tim arkelog sendiri. Kayu ulin tersebut usianya diperkirakan 700 tahun masehi.



Uniknya lagi kerjaan Bataguh dulunya dipimpin seorang wanita cantik. Namanya Nyai Undang. Dia seorang raja yang cantik dan berambut panjang. Nyai Undang selain berani juga terkenal sakti.

Untuk artikel lainnya tentang Kerjaan Nyai Undang ini, silahkan diklik pada tautan ini: https://www.kompasiana.com/muhamadramli/5a8ab734f13344290b06d725/the-lost-city-menelusuri-jejak-nyai-undang-dari-kuta-bataguh


Senin, 12 November 2018

Hulu dan Hilir, Ketika Keduanya Bertemu



Photo: Ekslusif

Ada perbedaan yang mencolok antara orang yang hidup di pesisir dengan mereka yang hidup di daerah hulu dan pedalaman ketika berbicara.
Orang-orang yang hidup dipesisir terbiasa dengan hiruk-pikuk dan bergelut dengan berbagai macam kesibukan. Aktifitas dengan mobilitas yang tinggi menimbulkan suara-suara yang menyebabkan kebisingan. Untuk bisa didengar ketika berbicara mereka biasanya meninggikan volume suaranya. Kebiasaan ini terbawa-bawa ketika berada di luar aktifitas keseharian yang sudah tidak bising lagi. Bagi anda yang tidak terbiasa mungkin saja menyangka orang-orang ini sedang marah-marah, tetapi ketika melihat raut wajahnya anda akan mengerti bahwa cara berbicara mereka memang begitu adanya.

Berbeda dengan mereka yang hidup di daerah hulu atau pedalaman, berprofesi sebagai petani atau berkebun, biasanya ketika berbicara nadanya biasa-biasa saja, datar-datar saja dan tidak cenderung meninggi. Profesi dan keseharian mereka yang cenderung sunyi, sepi, penuh dengan ketenangan, jauh dari hiruk pikuk tidak mempengaruhi gaya berbicaranya.

Lucunya ketika dua kelompok ini bertemu sekilas anda akan mengira mereka lagi berantem, padahal tidak. Pertemuan mereka biasanya terjadi di pasar-pasar tradisional, untuk membeli kebutuhan sehari-hari.

Minggu, 27 Mei 2018

PUASA



Puasa bagi sebagian orang mungkin biasa-biasa saja, tidak ada yang banyak berbeda kecuali berubahnya waktu makan, yang biasanya siang hari menjadi malam hari. Tapi tidak demikian bagi mereka yang berprofesi sebagai pekerja kasar seperti petani, nelayan, tukang bangunan, kuli, sopir dan lain-lain. Berpuasa adalah ibadah yang sangat berat bagi mereka. Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu melaksanakan ibadah puasa ketika mereka bekerja. Bagi mereka yang mampu berpuasa, itu adalah sebuah jihad yang luar biasa. Kita acungkan jempor buat mereka yang sanggup berpuasa pada keadaan yang tidak biasa itu.
Saya adalah anak seorang petani, kakek dan bahkan saudara saya sebagian berprofesi sebagai petani. Tidak mudah bagi petani berpuasa ketika bulan Ramadhan tiba. Saya pernah merasakan betapa beratnya bekerja di sawah ketika sedang puasa. Berjemur di tengah teriknya sinar matahari ditambah dengan tuntutan pekerjaan yang harus menggunakan tenaga ekstra, keringat terus menerus keluar, sehingga dehedrasi cepat sekali menyerang. Tidak beberapa lama kemudian tenaga makin melemah, tenggorokan kering dan terasa pekat, air liur terasa pahit. Siapakah yang sanggup berpuasa dengan keadaan seperti ini. Ya, hanya orang-orang yang tangguh saja, yang kuat imannya dan saya berkeyakian bagi mereka yang sanggup berpuasa dengan keadaan seperti itu adalah pahala yang sangat besar bagi mereka.
Ketika musim panen tiba, biasanya terjadi pada musim kemarau. Ketika musim panen bertepatan dengan bulan Ramadhan sungguh berat sekali berpuasa. Padi yang sudah menguning tidak dapat di tunda-tunda untuk di tuai. Mau tidak mau para petani harus turun ke sawah, kalau tidak, padinya akan menurun kualitasnya, atau malah dilalap api, karena biasanya di lahan gambut apabila kemarau tiba rentan sekali dengan kebakaran.


Salut buat para buruh tani, nelayan, buruh pabrik, kuli panggul, tukang bangunan, tukang ojek, abang becak dan lain-lain. Yang dalam kondisi dan keadaan berat yang mereka pikul masih kuat untuk berpuasa, walaupun dalam keadaan-keadaan tertentu mereka dibenarkan untuk tidak berpuasa. Mereka adalah para pejuang yang berjihad melawan hawa nafsu, mencari nafkah yang halal untuk keluarga dan berupaya bertahan di jalan-Nya.

Rabu, 07 Maret 2018

The Lost City, Menelusuri Jejak Nyai Undang dari Kuta Bataguh

The Lost City, Menelusuri Jejak Nyai Undang dari Kuta Bataguh

Dulu sekitar akhir tahun 80-an di kampung kami mendadak ramai didatangi orang-orang dari berbagai daerah, terutama Kalteng dan Kalsel. Apakah gerangan yang orang-orang kerjakan? Apakah yang mengundang mereka datang berduyun-duyun? Laki-laki, perempuan, orang dewasa dan bahkan anak-anak berjibaku, mengeruk lumpur untuk menemukan emas.
Rupanya pancaran logam mulia inilah yang menarik mereka berdatangan tanpa diundang ke kampung kami. Bayangkan saja, di sepanjang kampung, sampai ke pojok-pojok, berederet-deret tenda dari terpal di bangun. Makin hari, semakin banyak orang-orang berdatangan entah dari pelosok mana datangnya.
Sebagaimana kata pepatah, di mana ada gula di situ ada semut, begitulah di kampung kami. Orang-orang berdatangan bukan hanya untuk mendulang emas, tetapi datang juga pedagang-pedagang musiman. Kampung yang asalnya sunyi sepi dengan rutinitas penduduknya sebagai petani, mendadak menjadi hiruk pikuk penuh dengan berbagai kegiatan bahkan sampai ke malam hari. Kampung ini seolah terbangun dari tidur panjangnya.
Warga penduduk asli kampung bahkan sudah lupa bahwa  bahwa pekerjaan mereka adalah bertani. Sawah-sawah dan kebun-kebun sudah ditinggalkan, mereka ikut hanyut dengan aktivitas baru, sebagai pendulang emas. Memang, dibanding bertani atau berkebun warga bisa setiap hari mendapatkan uang dengan menjual emas kepada penadah yang tersebar di kampung, berdamaan dengan berdatangannya pendulang emas.
Konon emas yang didulang disini bukanlah emas alam. Orang-orang mendapat emas sebagian dalam bentuk yang sudah jadi, seperti cincin, kalung, leontin, gelang dan sebagian besar dalam bentuk leburan (emas yang terbakar) menggumpal atau serpihan-serpihan tipis. Terkang ditemukan serpihan-serpihan perahu, juga pengayuh (dayung) yang gagangnya kebanyakan berbentuk bulan sabit beserta tembingkar dari tanah yang kebanyakan sudah tidak utuh lagi. Para pendulang bersepikulasi apabila ketika menggali menemukan alat-alat seperti ini kemungkinan besar apa yang mereka kerjakan mengandung emas yang dicari-cari.
Entah bagaimana awalnya penduduk asli kampung tahu bahwa tanah mereka mengandung emas. Kemungkinan ketika mereka menggali tanah untuk membikin bedengan atau meninggikannya sering mendapatkan emas. Hingga satu atau dua orang mencoba mencarinya dengan menggunakan alat seadanya, seperti baskom, wajan atau kuali dan apa saja yang bisa digunakan untuk tempat mengancurkan tanah. Dan ternyata mereka mendapatkan apa yang mereka cari.
Tersebarlah berita, dari mulut ke mulut. Awal-awal hanya di sekitar kampung, lama kelamaan meluas hingga ke daerah-daerah lain, hingga banyaklah orang-berdatangan. Saya masih ingat orang membawa apa saja sebagai wadah untuk menghancurkan tanah, terutama alat-alat yang saya sebutkan di atas.
Mula-mula orang menghancurkan tanah hanya dengan mengadonnya dengan tangan, kemudian mereka membikin peti-peti dari kayu. Tanah tidak lagi dihancurkan dengan tangan, melainkan diinjak-injak dengan kaki sampai lunak dan menjadi bubur sampai akhirnya tinggal pasir agar emas dapat terlihat.
Belakangan para pendulang sudah mengunakan mesin dan alat penyedot untuk menghancurkan tanah dengan kapasitas yang lebih besar, seiring dengan itu pula emas sudah mulai sulit didapatkan.
Saya sudah sampaikan di awal tulisan ini bahwa emas yang dicari di sini bukanlah emas alam, tetapi emas yang sebagian besar dalam bentuk jadi atau paling tidak emas yang melebur karena hangus terbakar. Konon, ratusan tahun yang silam di sini telah berdiri sebuah kerajaan yang cukup besar dengan kekayaan yang melimpah. Rakyatnya hidup makmur yang dipimpin oleh seorang raja perempuan bernama Nyai Undang.
Nama kampung saya ini adalah Handil Kuta, di sebelah Selatan, sekitar satu kelometer terdapat juga Handil Bataguh, kedua handil ini hanya berbeda RT saja. Saat ini orang lebih mengenalnya dengan Kuta Bataguh. Terletak di Kelurahan Pulau Kupang, Kecamatan Bataguh Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Saya baru tahu setelah mencari di internet tentang legenda Nyai Undang bahwa istilah "kuta" berarti "benteng" dan "bataguh" berarti "kuat". Jadi Kuta Bataguh berarti "benteng yang diperkuat".
Untuk legenda Nyai Undang lebih lengkapnya dapat ditelusuri di sini: https://www.infoitah.net/2015/12/legenda-nyai-undang-pertempuran-kuta-bataguh.html?m=1
Tapi saya kira informasi yang lebih lengkap tentang Nyai Undang dan Kuta Bataguh-nya ada dalam buku The Lost City: Menelusuri Jejak Nyai Undang Dari Kuta Bataguh Dalam Memori Suku Dayak Ngaju yang ditulis oleh Herry Porda N.P. & M. Z. Arifin Anis & Mansyur. Sayangnya saya juga belum memiliki buku ini, maklumlah budget untuk membeli buku saya sudah ke-ok duluan. Semoga di bulan depan saya dapat memiliki buku ini.
Sisa-sisa kerajaan ini masih dapat terlihat ketika saya masih kecil. Tonggak-tonggak gelondongan dari kayu ulin yang berdiri berjejer rapi berdeameter antara 40 sampai 50 cm dijadikan sebagai benteng pertahanan kerajaan. Sebagian besar kayu-kayu ulin ini sudah tinggal sebatas tanah karena terbakar api. Sebagian warga juga mengambilnya untuk dijadikan sebagai bahan untuk membuat rumah.
Sisa-sisa peninggalan sejarah ini semakin hancur ketika orang-orang berdatangan untuk mencari emas di dalam lokasi bekas kerajaan yang luasnya berpuluh-puluh hektar (menurut laporan petugas dari Provinsi Kalteng yang datang pada akhir Agustus 2017 lalu melakukan analisis  terhadap Kuta Bataguh luasnya mencapai 5.000 meter persegi). Walaupun ada kepercayaan lokal di masyarakat bahwa segala apa yang ditemukan di sini tidak boleh dibawa ke laur, apabila dibawa akan menjadi malapetaka baginya. Namun tetap saja tidak menghalangi situs ini dari kehancuran, disamping tidak adanya edukasi dari pihak yang berwenang.
Gauri Vidya Dhaneswara, analis Potensi Cagar Budaya dan Koleksi Musium bersama Markorius, Kepala Seksi Registrasi dan Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Kalteng dalam laporan Tabengan.com mengatakan bahwa Bataguh pada masanya merupakan pusat perdagangan yang cukup tersohor dan telah berhubungan dengan Tiongkok. Terbukti dengan ditemukannya manik dari Tiongkok.
Sumber: Tabengan.com
Sumber: Tabengan.com
Juga, diperkirakan ada indikasi Bataguh sudah menjalin hubungan dengan pedagang dari Timur Tengah, dengan ditemukannya manik bintang dan bulan. Selain itu ditemukan juga meriam. Meriam pertama kali diproduksi oleh Tiongkok, dan dibuat secara massal. Menurut Gauri akan diadakan uji coba karbon terhadap barang-barang yang ditemukan sehingga nanti akan diketahui umur barang tersebut.
Baru-baru ini saya melihat di status facebooks kawan sekampung asal saya, bahwa hari Sabtu atau Minggu, 17 &18/02/2018 ini Gubernur Kalimantan Tengah Sugianto Sabran akan mengunjungi situs sejarah yang lama terlantar ini. Baru-baru ini juga telah dibangun jalan darurat menuju ke situs sejarah tersebut. Namun barusan saya mendapatkan kompirmasi bahwa Sabran urung datang, walaupun masyarakat di Kuta Bataguh telah menanti-nanti kedatangannya.
Semoga saja dengan adanya perhatian dari pihak berwenang situs sejarah yang sangat berharga tersebut dapat dilestarikan, sebagai sumber sejarah dan edukasi bagi generasi yang akan datang.

Sabtu, 06 Januari 2018

ARTI SEORANG AYAH BAGIKU

ARTI SEORANG AYAH Bagiku.

Seorang ayah adalah figur yang sangat berarti bagi saya, dari beliaulah saya banyak belajar, terutama tentang bagaimana cara hidup. Pelajaran yang ayah berikan selain dari nasehat adalah prilaku yang luar biasa, yang beliau contohkan.

Ayah adalah orang yang sangat gigih. Jarang sekali saya melihat beliau terlihat santai, bahkan ketika berada di rumah sehabis pulang dari sawah. Ada saja yang beliau kerjakan seperti membaca buku, mengisi raport, melengkapi berkas-untuk pengajuan surat-surat nikah ke KUA dan lain-lain. Ayah bukanlah orang yang terbiasa tidur di siang hari, bahkan ketika tidak ada kegiatan rutin.

Ayah saya berprofesi ganda, selain sebagai petani beliau juga mengajar sebagai guru honor di madrasah Ibtidaiyah swasta dan juga diangkat sebagai penghulu di kampung. Pagi hari beliau pergi ke sawah bersama ibu, kemudian pada siang harinya beliau mengajar. Sesekali jika hari libur saya ikut ke sawah membantu mereka menanam padi jika musim tanam tiba atau mengetam (menuai) padi jika musim panen tiba.

Penghasilan sebagai seorang guru honorer, di sekolah swasta pula, jauh dari mencukupi. Gajinya pun tidak diberikan setiap bulan melainkan setahun sekali. Yaitu selepas panen tiba, bukan uang tapi padi. Setiap siswa membayar sekitar 5 blek padi. Kalau diuangkan sekarang sekitar 300 ribu perorang pertahunnya. Paling banyak setahunnya ayah haya dapat 150 blek, atau jika diuangkan sekitar 4,5 juta pertahun. Murah banget bukan.

Ya, kalau kita bandingkan dengan sekarang memang sangat murah. Tapi saya yakin mengajar tujuan utamanya bagi ayah bukanlah materi, tetapi karena panggilan jiwa. Ia mengajar karena bertujuan untuk mendidik orang-orang di sekitarnya agar paham dan mengerti tentang agama. Mungkin jauh berbeda dengan guru zaman sekarang. Kita sulit menjumpai pendidik yg benar-benar ikhlas. Sebagian guru tidak lagi mendidik dengan ikhlas, tugas mengajar sulit dibedakan dengan transaksi bisnis. Keikhlasan guru sudah ternodai oleh kecenderungan untuk "menjual ilmu" kepada siswa. Akibatnya setelah selesai menyampaikan pelajaran, guru menganggap selesai pula tugasnya dan lepas pula tanggung jawabnya.

****
Selain mengajar ayah juga sering dipanggil ke rumah-rumah warga untuk memberikan nasehat-nasehat agama, terutama pada momen-momen tertentu seperti hari-hari besar Islam. Atau terkadang dipinta untuk membacakan manaqib (sejarah orang-orang sholeh), memimpin tahlilan, dzikiran dan lain sebagainya. Kegiatan-kegiatan seperti ini biasanya dilakukan di malam hari, selepas sholat isya.


Ketika mengadiri acara-acara tersebut ayah selalu mengajak saya dan menyuruh saya duduk di sampingnya. Sering kali saya tertidur ketika beliau memberikan nasehat-nasehat agamanya kepada warga, dan ayah tidak pernah marah atau jera membawa saya untuk ikut bersamanya. Waktu itu saya masih usia sekolah dasar. Belakangan saya menyadari, rupanya inilah cara ayah mendidik saya, ketika ia menasehati orang lain secara tidak langsung dia juga menasehati anaknya, walaupun sering tertidur tetapi tidak semuanya apa yang ayah sampaikan itu lewat begitu saja ditelinga saya.

Saya adalah anak tertua dari sembilan bersaudara, jarak antar saya dan adik-adik sangat berdekatan, sekitar dua sampai tiga tahun. Sebelum adik laki-laki paling bungsu saya lahir, waktu itu saya adalah satu-satunya anak laki-laki, tujuh orang adik saya berturut-turut semuanya perempuan.

Ibu saya bukanlah seperti ibu rumah tangga biasa, ia tidak terbiasa diam di rumah. Ketika ayah berangkat ke sawah, ibupun ikut ke sawah. Lalu bagaimana dengan kami, anak-anaknya yang masih kecil-kecil yang belum bersekolah? Ya, bagaimana lagi kamipun juga digiring ke sawah. Adik saya yang masih kecil, yang belum kuat berjalan dibuatkan oleh ayah pondok kecil untuk melindunginya dari hujan dan panas matahari. Di dalam pondok kecil itu dibikinkan buaian (ayunan) untuk menidurkan adik saat ibu bekerja. Ayah membikin pondok kecil yang bisa dipindah-pindah, agar kami tetap dekat dengan mereka.

*****
Ketika di pesantren, terpisah dengan orang tua, ketika semangat mulai pudar dan menurun dalam belajar, atau terpuruk dalam kesedihan, membayangkan ayahlah yang melecut dan memompa semangat saya untuk tetap bangkit mengejar cita-cita. Demikian pula ketika telah berkeluarga dan mempunyai anak, ayah tetap menjadi teladan terbaik bagiku yang patut saya tiru, terutama kesabarannya dan kegigihannya.


Begitulah ayah, dengan segala keterbatasannya, dia terus bejuang untuk masa depan kami anak-anaknya. Letih dan lelah seolah tak pernah berarti baginya. Mengeluh, berputus asa ketika ditimpa kesusahan dalam hidup bukanlah kamusnya. Setidaknya itulah yang tergambar dalam diri saya sampai hari ini tentang ayah.

Terima kasih Ayah…

Selasa, 26 Desember 2017

KAKEKKU SEORANG PENDOBRAK

Mampu bersekolah adalah hal yang luar biasa dalam keluarga kami. Menurut ayah, kakek pernah berucap kepadanya, bahwa dia mau dengan susah payah menyekolahkan ayahku karena ingin menanamkan "bibit". Bibit yang nanti akan menumbuhkan generasi yang lebih baik dari yang ada saat ini.

Ayahku adalah anak ke empat dari sepuluh bersaudara. Dengan pekerjaan kakek sebagai petani dan diselingi dengan berkebun kelapa tentu sangat jauh dari berkecukupan. Bahkan untuk makan sehari-haripun terkadang hanya makan nasi dicampur dengan ubi kayu atau jagung.

Dapat dibayangkan, betapa susahnya kehidupan ayah pada waktu itu. Jangankan untuk bersekolah, dapat makan dengan layak saja sudah syukur. Namun, dengan adanya tekad yang kuat dari ayah dan keinginan adanya perubahan dalam keluarga dari kakek, paling tidak satu orang yang dapat bersekolah maka jalan apapun akan di tempuh.

Kakek termasuk orang yang taat  menjalankan agama. Walaupun tidak pernah bersekolah formal, tapi beliau ranjin menghadiri pengajian-pengajian rutin yang diselenggaran oleh tuan guru di kampung-kampung. Menurut ayah kakek dulunya berasal dari hulu sungai, tepatnya di kampung Nagara daerah Hulu Sungai Utara. Beliau masih ada hubungan darah dengan keluarga kerajaan zaman dahulu yang terdapat di daerah tersebut. Walau demikian beliau tidak pernah membanggakan itu, kecuali keinginan untuk tidak hidup terbelakang dan merubah nasib.

Dari kebiasaan inilah dan karena bergaul dengan orang yang satu majlis dengannya mungkin, yang menyebabkan kakek punya pikiran kedepan. Kakek menyadari dari kebiasaannya mengaji ke guru-guru agama dan ketika bertemu dengan orang-orang se-majlis. Bahwa kalau ia ingin merubah nasibnya dan nasib keluarganya maka mau tidak mau harus ada yang bersekolah dalam keluarganya. Walaupun keadaan ekonomi keluarga sangat tidak mendukung paling tidak ada satu orang dalam keluarga yang harus bersekolah. Itulah yang dikatakan beliau menanam "bibit", dan waktu itu ayahlah yang punya kemauan kuat untuk bersekolah.

Begitulah pemikiran kakek. Rupanya beliau menyadari bahwa, kalau ingin berubah maka harus dimulai dari sekarang. Kemiskinan dan kebodohan ibarat mata rantai yang sangat kuat membelenggu kehidupan manusia. Kalau ingin terlepas, maka ia harus memutus mata rantai itu. Dengan mulai menanam, walau hanya satu bibit, barangkali bibit inilah kelak yang akan tumbuh, berbuah dan akan melahirkan bibit-bibit baru yang bisa merubah nasib dari garis kerurunannya..

Minggu, 24 Desember 2017

ALA PESANTREN

Diantara keunikan kehidupan di Pesantren yang sanagat  bersahaja adalah kebiasaan memberikan gelar kepada teman sesama santri. Hampir tidak ada santri yang tidak punya gelar ketika mereka masih mondok di pesantren.

Adapun hal ihwal gelar ini di dapat, sangat bermacam-macam riwayatnya (istilah pesantren asbabun nuzulnya). Bisa saja gelar diberikan karena terlalu banyak nama yang sama atau mirip dan sulit untuk membedakan misalnya nama Ahmad, Taufik atau Udin. Bisa juga gelar di berikan karena sifat, perawakan atau kelakuan santri tersebut.

Gelar-gelar inipun bermacam-macam jenisnya mulai dari yang agak keren, lucu, mengengejek, nama binatang, bahkan sampai kepada yang seram-seram. Nama asal daerah santri yang bersangkutan juga sering dijadikan untuk pemberian gelar.

Kehidupan di pesantren memang unik, seunik lembaga yang dikatakan sebagai lembaga pendidikan asli kepunyaan Indonesia ini. Hal ini mungkin disebabkan berbagai macam jenis, latar belakang dan status sosial santri yang datang dari segenap penjuru yang ingin menimba ilmu di pesantren. Di pesantren mereka bercampur baur, melebur menjadi santu.

Kelak setelah mereka berhasil menamatkan pendidikannya di pesantren, segenap pengalaman  termasuk gelar yang mereka dapat terpatri kuat di dalam benak mereka. Bahkan sering terjadi setelah mereka berjumpa lagi untuk reonian di pesantren, yang lebih diingat justru gelar ketimbang naman aslinya.

PENGALAMAN HIDUP

Beginilah keadaan jalan menuju ke kampung saya kalau musim hujan tiba. Ini adalah satu-satunya jalan yang dapat diakses melalui jalur darat atau kalaupun ada jalan, ini masih jauh lebih baik. Ada memang beberapa jalur lain yang dapat ditempuh untuk menuju ke sana, namun hanya bisa ditempuh dengan menggunakan Jukung (sampan) atau Kalutuk (perahu bermesin) dan tidak bisa dilewati oleh kapal yang tergolong besar, karena keterbatasan luas Handil (sungai)  serta adanya pendangkalan yang terjadi.

Kalau ditarik kebelakang, jalan ini sudah jauh lebih baik dibanding 20 tahun yang lalu sejak saya dikirim ke pesantren oleh orang tua saya. Dulu, dibagian hilir jalan ini, menuju kemuara setiap hari saya berjalan kaki pulang pergi ke sekolah yang jaraknya sekitar 3 km dari rumah. Kalau ditotal saya berjalan kaki setiap harinya sejauh 6 km, karena tidak ada pilihan lain, satu-satunya sekolah Madrasah Tsanawiyah Swasta yang ada di kampung yang paling dekat.

Dengan kondisi jalan setapak yang sangat buruk, berlumpur dan kadang tergenang air serta dikiri kanan  ditumbuhi pepohonan dan semak tidak mematahkan semangat saya untuk terus tetap sekolah. Setiap rerumputan, rimbunnya pepohonan, lebatnya semak belukar yang saya lewati dalam setiap langkah, saya jadikan motivasi bahwa mereka turut berdo’a untuk kesuksesan saya di masa depan.

Tidak sekali dua ketika terjepit waktu saya berlari menuju ke sekolah sambil menenteng sandal atau sepatu dengan kondisi jalan yang licin dan berlumpur setinggi mata kaki, tiba-tiba di tengah jalan melintang seekor ular yang sendang mencegat mangsanya. Dengan kondisi jalan yang licin tidak mungkin saya dapat mengerem lajunya lari saya, kalupun bisa ada kemungkinan saya akan tergelincir dan jatuh menimpa ular, saya tidak berani mengambil resiko ini. Kalau sudah begini tidak ada jalan lagi bagi saya, selain melompat setinggi-tingginya lalu lari sekencang-kencangnya tanpa sempat menoleh kebelakang.

Walaupun saya tidak pernah di kejar anjing atau babi hutan, namun karena yang dilewati hutan belantara, sesekali juga bertemu dengan anjing atau babi hutan yang kebetulan lewat melintas di tepi jalan. Kenangan yang menggelikan adalah ketika saya dikejar oleh segerombolan Warik (kera hutan) atau ketika pagi-pagi bertemu dengan sekelompok Berang-Berang yang terkejut dengan kedatangan saya, tiba-tiba mengejar. Kontan saja saya lari terbirit-birit sambil ngakak sendiri sambil mengeluarkan sumpah serapah.

Suatu ketika ayah saya membelikan saya sepeda, maksud beliau ingin mempermudah saya pulang pergi ke sekolah. Namun dengan mengendarai sepeda bukannya mempermudah saya, bahkan menambah beban saya menjadi berlipat. Dengan kondisi jalan yang sangat buruk serta jembatan yang haya dibuat dari batang kayu gelondongan sebesar paha orang dewasa atau dari batang pohon kelapa tidak mungkin dilewati dengan mengendarai sepeda. Jadilah saya bergantian, kalau tadinya saya yang naik sepeda tetapi kalau ada jembatan atau jalan yang berlubang dan berlumpur sepedalah yang naik ke saya.

Sepedapun saya tinggalkan, saya lebih memilih berjalan kaki, kecuali di saat kemarau jalan menjadi kering, walaupun kalau bertemu jembatan tetap saja sepeda yang naik ke saya. Alternatif lain kalau sudah merasa bosan dan letih berjalan kaki, saya mengayuh Jukung (sampan kecil) melalui sungai kecil, kami menyebutnya Handil. Dengan mengayuh jukung setidaknya saya tidak berbecek-becek dan setiap sampai di sekolah harus mencuci celana sampai selutut.

Karena terlalu pagi berangkat ke sekolah terkadang saya tidak sempat untuk sarapan dan karena keterbatasan ekonomi saya jarang-jarang mendapatkan uang jajan. Kebiasaan buruk ini ternyata berakibat pada lambung saya, sehingga rasa perih dan mual sering saya rasakan ketika pulang dari sekolah. Uniknya ketika saya sudah berada di pesantren keluhan perih dan mual saya berangsur-angsur menghilang. Mungkin ketika hidup di pesantren pola makan saya menjadi teratur walaupun dengan menu seadannya, tetapi bagi saya itu sudah istemewa karena apabila dibandingkan dengan menu di rumah itu sudah lebih baik.

Saya merasa bersyukur, disaat orang lain bermasalah dengan menu yang ada di pesantren, saya justru menikmatinya. Pesantren bagi saya adalah sebuah kemewahan bila dibanding dengan kehidupan dan sekolah saya sebelumnya. Di saat orang lain merasa terpenjara dan dimarjinalkan saya justru menikmati.
  
Begitupun pula ketika beberapa hari yang lalu, untuk kesekian kalinya saya berkunjung ke rumah orang tua saya. Kembali menjenguk handai taulan dengan keadaan jalan seperti yang saya ambil gambarnya. Saya masih tetap bersyukur, bahwa saat ini masih lebih baik dari ketika 20 tahun yang lalu saat saya masih bersekolah.

Jumat, 22 Desember 2017

PENGAJIAN DI KAMPUNG

Siang kemaren saya berkesempatan mengikuti pengajian di kampung. Jama'ahnya sebagian besar dihadiri oleh ibu-ibu dan beberapa diantaranya adalah bapak-bapak. Pengajian ini membahas bab tentang Taubat. 

Tuan Guru menjelaskan bahwa syarat2 taubat itu ada tiga, yaitu: 
1. Menyesali terhadap dosa yg pernah dilakukan. 
2. Berhenti dari mengerjakan dosa yg dilakukan. 
3. Bertekad tidak akan mengulangi memperbuat dosa yg pernah dilakukan. 
Jika dosa yg dikerjakan bersangkutan dengan hak sesama manusia maka syaratnya ditambah satu lagi, yaitu meminta maaf atau meminta halal kepada orang yg pernah diperbuat dosa kepadanya.

Setelah selesai tuan guru menjelaskan, seorang ibu dengan lantang bertanya tentang boleh tidaknya megambil Kalakai (sejenis tumbuhan paku-pakuan yg hidup liar di lahan warga) biasanya dijadikan sayur untuk dimakan atau untuk dijual. Dijawab oleh tuan guru bahwa kita hendaknya sebelum mengambil minta ijin dulu kepada sang empunya lahan. Sekalipun tumbuhan itu hidup liar tidak ditanam karena tumbuh dengan sendiriya di lahan-lahan warga.

Seorang ibu lainnya bertanya bagaimana kalau mengambil jeruk tetangga yg sebelumnya sudah mempersilahkan untuk mengambil, sekalipun tidak minta izin lagi kalau ingin mengambil lagi setelahnya.

Di kampung kami, di daerah Kuala Kapuas Kalimantan Tengah, banyak tumbuhan liar yg dijadikan sebagai sayuran. Tidak di pelihara, dan membutuhkan modal tapi punya nilai ekonomis. Tumbuhan ini tumbuh dengan sedirinya di lahan-lahan warga yg sudah tidak terurus. Kalakai dan Piyai adalah jenis tumbuhan paku-pakuan yg pucuk mudanya sering dijadikan sebagai sayuran yg enak rasanya kalau dimasak. Selain itu ada juga tumbuhan lain yg tumbuh liar di sawah-sawah seperti Genjer dan Talipok (sejenis teratai).

Mendengar pertanyaan ibu-ibu pengajian itu saya membatin. Alangkah mulianya hati para ibu-ibu lugu ini. Mereka sangat takut jika makan makanan yg tidak halal. Mereka sangat takut kalau mengambil sesuatu yg bukan haknya. Padahal tumbuhan yg diambil itu tidak ditanam dan seandainya diambil tidak akan merugikan empunya lahan. Dan saya tahu persis bahwa ibu yg bertanya itu adalah seorang janda yg telah meninggal suaminya. Hidupnya jauh dari berkecukupan. Pekerjaan adalah menjual sayur-sayuran dan buah-buahan dengan mengayuh Jukung (sampan/perahu kecil) mengelilingi kampung di sepanjang bantaran sungai untuk bertahan hidup. 

Lihatlah orang-orang yg terlibat korupsi di negri ini. Mereka hidup berkecukupan, bahkan lebih dari cukup. Mereka juga berpendidikan tinggi S1, S2, S3 bahkan profesor. Namun masih tidak bisa membedakan yg mana haknya dan yg mana hak orang lain. Mereka buta hatinya tetapi terang benderang matanya ketika dihadapkan dengan yg namanya fulus. Sungguh eronis.