Tampilkan postingan dengan label PESANTREN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PESANTREN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Juni 2019

Sarung, Identitas Kaum Santri


Sarung, Identitas Kaum Santri





Beberapa kurun dahulu, kaum santri terkenal ndeso, lugu, jorok, serta seabrek predikat miring yang ditujukan kepada mereka. Santri juga identik dengan kaum Islam tradisional atau kaum sarungan, dan pemakai sandal jepit. Wajar, karena banyak santri yang memiliki latar belakang ekonomi menengah ke bawah, meskipun para santri juga ada yang berasal dari kalangan menengah ke atas.

Tetapi di balik anggapan miring yang ditujukan kepada kaum sarungan ini, banyak nilai-nilai positif yang bisa diteladani, seperti: kehidupannya yang sederhana, keimanan yang kokoh, serta cintanya terhadap tanah air yang tak pernah lekang.

Suatu ketika K.H. Hasyim Muzadi pernah berujar tentang santri dan perihal kebiasaan bersarung mereka. Begini: “Ini lomba selawatan di Surabaya. Yang menang ternyata anak-anak Muhammadiyah. Mereka pakai piano, pakai jas, dasi. Lah, anak-anak NU pakai sarung; gak tahu, pakai celana dalam apa tidak!?.”

Terlepas dari pakai celana dalam atau tidak, sarung memang lekat dengan kaum yang satu ini. Bahkan salah satu gelar yang diberikan kepada mereka adalah 'kaum sarungan.' Kalau masih penasaran, Anda bisa melakukan survei kepada beberapa santri apakah pakai dalaman atau tidak. Yang penting pakai sarung itu bikin sejuk, adem dan tidak gerah...hahaha..

Pertama-tama masuk ke pesantren mengenakan sarung memang susah-susah gampang. Selain susah rapinya, bundelannya juga besar-besar. Jadinya malah tidak praktis, susah kalau mau berkegiatan. Namun itu tidak berjalan lama. Tidak sampai satu bulan memondok para santri sudah mahir menggunakan pakaian khas masyarakat muslim Indonesia ini.

Selagi masih di pesantren atau pun ketika sudah pulang ke rumah, mereka tetap betah menggunaakan sarung. Santri tidak canggung lomba lari hingga main sepak bola menggunakan sarung. Kalau pertama kali menggunakan sarung dikatakan tidak praktis, ribet dan sebagainya, justeru lama kelamaan menjadi ketagihan dan dianggap lebih praktis daripada pakai celana. Soalnnya kalau mau cepet-cepet dan tergesa-gesa mau buang air atau yang lainnya tinggal buka saja, urusan selesai.

Pada masa penjajahan sarung identik dengan perjuangan melawan kolonial serta budaya yang mereka bawa. Busana ini melekat sebagai identitas kaum santri yang pada waktu itu menjadi simpul gerakan rakyat di akar rumput. Bagi para santri, sarung adalah identitas diri yang membedakan mereka dari kaum abangan yang komitmennya terhadap kemerdekaan cenderung tidak stabil. Tidak sedikit dari kaum abangan ini yang begitu mengagumi dan meniru budaya kolonial, sehinggan nasionalisme mereka diragukan.

Setelah kemerdekaan, kesetiaan para santri terhadap sarung tidak pernah lekang, malah sarung dijadikan sebagai symbol kebudayaan bangsa yang otentik. Tidak sulit untuk mendapatkan contoh tentang ini. Adalah seorang tokoh Nahdlatul Ulama (NU), K.H. Abdul Wahab Chasbullah suatu ketika pernah diundang oleh presiden Soekarno. Protokol kepresidenan meminta beliau untuk berpakaian lengkap dengan jas dan dasi. Namun, saat menghadiri upacara resmi kenegaraan itu, beliau malah datang dengan menggunakan sarung. Padalah pada acara-acara resmi seperti itu, biasanya orang datang memakai jas lengkap dan memakai celana.

Sebagai seorang pejuang yang sering berperang melawan penjajah Belanda dan Jepang, Kiai Wahab tetap konsisten menggunakan sarung sebagai simbol oposisi terhadap budaya Barat. Beliau ingin menunjukkan martabat bangsanya di hadapan siapa saja, termasuk di hadapan penguasa negerinya, dan generasi penerus selanjutnya.

Sekarang, setelah jauh berlalu, sarung sudah menjadi busana nasional yang marak dekenakan oleh hampir semua kalangan, mulai dari presiden hingga rakyat jelata. Karena sarung yang telah menjadi busana khas Nusantara ini benar-benar sangat simple, praktis.

Seorang santri sangat bangga memakainya. Kelak setelah menjadi orang ternama seperti; presiden, menteri, dubes, gubernur, walikota, bupati, hakim, tentara, polisi, dokter, dosen, atau yang lainnya, sarung tetap setia menemani mereka, dan menjadi busana yang menyenangkan dan tidak akan ditinggalkan.

Saat ini banyak para santri yang melanjutkan menuntut ilmu ke luar negeri, terutama negara-negara Arab (Timur Tangah), seperti di Mekah, Madinah, Yaman, Syiria, Lebanon yang selalu memakai pakaian khas Arab; gamis atau jubbah. Tetapi mereka tidak pernah meninggalkan sarung, malah justeru mengawinkannya. Mereka memakai gamis dan jubbah, tetapi dalamannya memakai sarung.[]



Wirid dan Kaum Sarungan



Sumber Photo: NU Online



Wiridan adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan santri di pesanren. Bahkan wirid bisa dikatakan sebagai ruh nya pesantren. Dimanapun santri berada, mesti tidak lepas dari wiridan. Kumpulan wiridan ini disebut dengan awrad. Makna wirid sendiri berarti sesuatu yang di ulang-ulang. Dalam pengertian yang lebih luas, wirid adalah amalan yang dikerjakan secara tetap dan tertib. Wirid juga dapat berupa ibadah secara tertib termasuk zikir yang dikerjakan terus menerus, tidak pernah ditinggalkan.

Beberapa wirid dibaca sebelum dan sesudah sholat lima waktu. Beberapa lagi berdasarkan waktu, misalnya dibaca di pagi hari atau di sore hari. Di pesantren kami, wirid biasanya dibaca bersama-sama dan sebagian lagi dibaca sendiri. 

Pada santri pemula pembacaan wirid dijaga dan kontrol dengan ketat. Mereka diwajibkan memegang buku kecil kumpulan wirid yang sudah disusun terlebih dahulu, yakni amalan harian. Pengontrolan ini dimaksudkan agar para santri betul-betul fokus membaca dan melafalkan secara benar untuk kemudian menghafalkannya. Pada kegiatan tertentu sejumlah wirid diperlombakan untuk memotivasi para santri agar lebih bersemangat menghafalkannya.

Jamaknya, wirid berisi ayat-ayat Aquran, shalawat, zikir, nama-nama Allah (al-Asma’ al-Husna), do'a-do'a dan lain-lain. Tetapi di pesantren, kitab-kitab, seperti matan Jurumiyyah, Alfiyah dan kitab matan lainnya bisa menjadi wiridan. Wirid dijadikan sebagai teknik untuk menghapal kitab-kitab matan. Atau, bisa juga, difungsikan untuk mendaras sebelum atau sesudah menghafalkan.

Begitu pentingnya wirid, di pesantren beredar sebuah ungkapan yang berbunyi: "man laisa lahu al-wirdu fahua al-qirdu" (barang siapa yang tidak mau berwirid maka dia sama dengan binatang kera). Entah bagaimana caranya menghubungkan antara orang yang tidak suka berwirid dengan binatang kera, sampai sekarang bagi saya masih belum jelas. Mungkin saja, orang yang tidak berwirid, prilakunya dianggap seperti binatang kera yang culas, rakus dan tetap jail, sekalipun telah diberi makan banyak oleh pemiliknya.

Setelah selesai sholat lima waktu, orang harus berwirid terlebih dulu, yang sebagian isinya adalah ayat-ayat Alquran, zikir dan puji-pujian kepada Allah. Mereka yang langsung berdo'a setelah sholat dianggap sebagai orang yang kurang beradab. Dan sebagai seorang santri, adab harus dipegang di atas segalanya, sebuah ungkapan berbunya; "man laisa lahu al-adab fahua al-dhab" (orang yang tidak punya adab maka dia seperti binatang dhab --sejenis biawak).

Sebagai seorang yang sejak kecil hidup di lingkungan yang kental dengan kultur NU kemudian bersekolah di pesantren, ketika suatu saat dihadapkan dengan kultur yang berbeda, tentu ada semacam keanehan yang menghinggapi dipikiran dan perasaan. Setidaknya perasaan itu muncul saat pertama kali. Misalnya dilingkungan Muhammadiyah setelah selesai sholat orang tidak berwirid secara berjamaah, tapi masing-masing. Atau hal-hal lainnya yang berbeda seperti qunut pada sholat subuh, rakaat dan ritual sholat Tarawih dan lain-lain. 

Sebagian kaum santri yang agak fanatik, mungkin akan memilih dulu masjid sebelum melaksanakan sholat jum'at atau tarawih karena permasalahan wirid ini. []


Minggu, 24 Desember 2017

PROFIL PONDOK PESANTREN AL FALAH BANJARBARU KALIMANTAN SELATAN

PROFIL PONDOK PESANTREN AL FALAH BANJARBARU
KALIMANTAN SELATAN

1.    Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Al Falah
Pondok Pesantren Al Falah didirikan pada tanggal 26 Juli 1975 Miladiyah atau bertepatan dengan 06 Rajab 1395 Hijriyah. Pondok Pesantren Al Falah terletak di Jalan Jenderal Ahmad Yani Kelometer 23.500, RT. 006 RW. 002 Kelurahan Landasan Ulin Tengah, Kecamatan Liang Anggang, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Dengan letak yang cukup  strategis dan berada di Jalan Protokol, berjarak 23 kelometer dari Banjarmasin Ibukota Propensi Kalimantan Selatan, 2 kelometer  dari Bandara Samsuddin Noor serta 13 kelometer dari kota Banjarbaru.
Pendirian Pondok Pesantren Al Falah diprakarsai oleh K.H. Muhammad Tsani yang dikenal dengan guru Tsani. Beliau adalah seorang ulama dan mubaliq, juga dikenal sebagai seorang pejuang yang tidak asing lagi di Kalimantan Selatan bahkan hingga ke pulau Jawa, Sumatera dan Malaysia.
K.H. Muhammad Tsani adalah seorang muballig atau sebagai guru agama yang memimpin majlis ta’lim baik di masjid, mushalla, langgar dan di rumah-rumah warga. Beliau sangat terkenal di Banjarmasin, khususnya di daerah Pasar Lama, di daerah beliau berdomisili. Beliau jaga dikenal oleh para pedagang, khususnya masyarakat alabio sebagai tuan guru mereka. Beliau juga terkenal dermawan sehingga pada bulan puasa beliau suka sekali menjamu berbuka puasa di langgar beliau.
K.H. Muhammad Tsani dalam perjuangannya dibidang pendidikan tercatat cukup dekat dengan Dr.K.H. Icdham Chalid ketika beliau berada di Jakarta.  Beliau dipercaya oleh Dr. K.H. Icdham Chalid untuk membangun sebuah madrasah yang diberi nama dengan Darul Ma’arif. Setelah pembangunan madrasah selesai, beliau ditawari oleh Dr.K.H. Icdham Chalid untuk memimpin madrasah tersebut, namun tawaran tersebut ditolak beliau dengan halus. Beliau mengatakan bahwa masyarakat Kalimantan Selatan masih mendapat perhatian beliau.
K.H. Muhammad Tsani terkenal sangat cerdas dalam menganalisa terhadap nilai-nilai pendidikan di suatu daerah. Beliau berpendapat bahwa masyarakat Kalimantan masih tertinggal jauh dalam bidang pendidikan dibading dengan daerah-daerah lainnya. Dari sinilah cikal bakal atau embrio yang kemudian menjelma hingga melahirkan Pondok Pesantren Al Falah.
Selain K.H. Muhammad Tsani tercatat beberapa orang yang seperjuangan dengan beliau saling bahu membahu dalam membesarkan Pondok Pesantren Al Falah. Dibidang keuangan pada waktu itu adalah H. Uriansyah (alm.), beliau ini terkenal sebagai pedagang besar di kota Banjarmasin. Dibidang manajemen dan pendidikan adalah K.H. Mujtaba Ismail, MA, beliau adalah alumnus S 2 dari Universitas Ummul Qura’ Mekkah Saudi Arabia, beliau ini juga menjabat sebagai Sekretaris Umum Yayasan.  
Nama “Al Falah” sendiri diambil dari lafadz azan yaitu “hayya a’lal falah” yang bermakna “marilah menuju kepada keberuntungan”. Maka dengan kata ini merupakan do’a dari para pendiri semoga orang-orang yang berada di dalamnya dan mereka yang menimba ilmu di Pondok Pesantren Al Falah selalu mendapat keberuntungan dan keselamatan di dunia dan akhirat.
Sejak awal berdirinya Pondok Pesantren Al Falah hanya mempunyai 26 orang santri saja serta dengan bagunan pesantren yang sangat sederhana. Setelah itu dari tahun ke tahun orang tua yang ingin menyekolahkan anak-anak mereka ke Pondok Pesantren Al Falah makin banyak dan terus meningkat. Sejak tahun 1993 sampai saat ini rata-rata santri Pondok Pesantren Putera Al Falah Banjarbaru tidak kurang dari seribu orang.
Pondok Pesantren Al Falah telah membuktikan dirinya sebagai lembaga pendidikan dan dakwah serta sebagai lembaga sosial kemasyarakatan yang tumbuh dari bawah. Pertumbuhan ini secara pelahan berkembang dan sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat, hingga memberikan warna tersendiri yang khas di tengah-tengah masyarakat.
Pondok Pesantren Al Falah telah memberikan andil dalam mencetak para santri untuk menjadi kader ulama yang menjadi juru dakwah sebagai penerang yang akan menuntun umat Islam dalam mewujudkan pembangunan manusia yang seutuhnya. Hal ini dilatarbelakangi oleh kesadaran betapa pentingnya pendidikan bagi proses peningkatan kualitas sumber daya manusia. 
2.    Letak Geografis
Adapun keadaan geografis Pondok Pesantren Putera Al Falah Banjarbaru terletak di wilayah Rt. 006 Rw. 002 Jalan Jenderal Ahmad Yani kilometer 23.500 Kelurahan Landasan Ulin Tengah Kecamatan Liang Anggang Kota Banjarbaru Kalimantan Selatan. Letaknya cukup strategis yaitu 23 kelometer dari kota Banjarmasin Ibukota Propensi, 13 kelometer dari kota Banjarbaru dan hanya berjarak 2 kelometer dari Bandara Syamsuddin Noor. Pondok Pesantren Putera Al Falah berhadapan langsung jalan Protokol, sebelah barat atau samping kanan terletak Pondok Pesantren Puteri Al Falah sedangkan timur dan selatan terdapat pemukiman penduduk yang lumayan padat.
Letak geografis yang sangat mendukung serta transfortasi sangat mudah karena letaknya di pinggir jalan protokol menjadikan Pondok Pesantren Al Falah sebagai tujuan orang-orang tua menyekolahkan anaknya ke pesantren. Tidak mengherankan para santri yang menimba ilmu di Pondok Pesantren Al Falah berdatangan dari berbagai penjuru tanah air, khususnya dari Kalimantan sebagian Sumatera dan Jawa.
3.    Visi, Misi dan Tujuan Pendidikan
Berdirinya Pondok Pesantren Al Falah dimotivasi keinginan untuk ikut membina kader-kader pemimpin agama melalui lembaga pendidikan agama. Motivasi ini terbit setelah K.H. Muhammad Tsani melihat dan merasakan bahwa kader-kader ulama/ pemimpin Islam semakin berkurang disamping di Kalimantan Selatan belum begitu berkembang lembaga pendidikan berbentuk pesantren.
Berangkat dari motivasi ini akhirnya dirumuskan visi, misi dan tujuan  pendidikan Pondok Pesantren Al Falah, yaitu sebagai berikut:
A.  Visi Pondok Pesantren Al Falah adalah: 
“Penguasaan ilmu fardhu ‘Ain dan kifayah mengakar di tengah masyarakat, berorientasi kepada imtaq dan iptek menuju hidup mandiri”.
B.  Misi Pondok Pesantren Al Falah adalah:
a.    Melaksanakan amanat akidah ahlussunnah wal jama’ah melalui pengembangan pendidikan secara kualitatif dan kuantitatif.
b.    Memberdayakan kader perjuangan muslim yang berwawasan ahlussunnah wal jama’ah.
c.    Mengembangkan potensi kemanusiaan dengan segala dimensinya, baik dimensi intelektual, moral, ekonomi, sosial dan kulturan dalam rangka menciptakan SDM yang handal.
C.  Tujuan jangka panjang Pondok Pesantren Al Falah adalah untuk menyiapkan generasi muda yang mampu menghadapi tantangan zaman.
4.    Jenjang Pendidikan dan Kurikulum Pondok Pesantren Putera Al Falah 
Santri yang menimba ilmu di Pondok Pesantren Putera Al Falah Banjarbaru diwajibkan melalui tiga jenjang pendidikan, biasanya secara normal ketiga jenjang pendidikan ini dapat ditempuh selama 7 tahun dengan perincian:
a.    Tingkat Tajhizi (persiapan), ditempuh dalam satu tahun.
b.    Tingkat Wustha, (menengah) ditempuh dalam waktu tiga tahun.
c.    Tingkat Ulya, (atas) ditempuh dalam waktu tiga tahun.
Pada jenjang pendidikan Tajhizi, Wustha, dan Ulya kurikulum yang digunakan adalah kurikulum pondok pesantren klasik yang dikembangkan oleh Pondok Pesantren Al Falah sendiri. Pada jenjang ini santri khusus hanya mempelajari pelajaran agama saja, yaitu pendalaman terhadap kitab-kitab klasik. Hari belajar adalah hari sabtu sampai dengan kamis dan libur pada hari Jum’at, untuk waktu pembelajaran adalah mulai jam 07.45  sampai dengan 12.30.
Selain itu Pondok Pesantren Al Falah Banjarbaru juga menyelenggarakan pendidikan madrasah. Terdapat dua madrasah yang ada di Pondok Pesantren ini, yaitu Madrasah Tsnawiyah Al Falah Putera dan Madrasah Aliyah Al Falah Putera. Pada jenjang ini siswa mempelajari kurikulum madrasah pada umumnya. Pembelajaran dilaksanakan pada siang hari, mulai dari jam 14.00 sampai dengan 17.30.
5.    Prestasi Sekolah
Santri pondok pesantren Al Falah Banjarbaru juga telah banyak menorehkan prestasi akademik dan non akademik. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah berikut ini:
Tabel 1.
Prestasi Akademik dan Nonakademik yang Pernah Diraih

No


Kejuaraan

Tingkat

Tahun
1
Juara II Lomba MQK3 
Nasional
2008
2
Juara III Festival Maulid Habsyi DPW PKB Kalsel 

Provinsi

2008
3
Juara Umum Bahasa dan Kaligrafi Tingkat SLTA/MA 

Provinsi

2008
4
Juara I Putra Festival Maulid Sal Habsyi
Kecamatan
2008
5
Juara I Putra Gebyar Maulid Piala Wakil Gubernur

Provinsi

2009
6
Juara III Putra Gebyar Maulid Piala Wagub
Kabupaten
2009
7
Juara II Festival Maulid (Festival ”Ad Durun Nafis) XI Gubernur

Provinsi

2009
8
Piala Bergilir piala Gubernur
Provinsi
2010
9
Juara II Festival Maulid Al Habsyi RRI Banjarmasin

Provinsi

2009
10
Juara III Cerdas Cermat Pekan Olimpiade Komputer se Kalsel 
Provinsi
2010
11
Juara II Festival Seni baca Syair Maulid Habsyi DPD Golkar Banjarbaru

Kabupaten

2011
12
Juara I Putra Lomba antar Penggalang HUT ke 4 Gudep 119-120 SMAN Alalak Batola

Kabupaten

2011
13
Juara I Remaja Pemilihan Da’i Lingkungan Abdi Persada FM

Provinsi

2011
14
Juara II Lomba Da’wah Islam HUT SMAN 1 Martapura

Kabupaten

2012
15
Juara III Lomba baca puisi putra HUT SMAN 1 Martapura

Kabupaten

2012
16
Juara Favorite Lomba Kaligrafi HUT SMAN 1 Martapura

Kabupaten

2012
17
Terbaik I Pemilihan Da’i Kalsel Gedung Sultan Suriansyah Banjarmasin

Provinsi

2012
18
Juara III Lomba Kaligrafi se kab. Banjar, Banjarbaru dan Banjarmasin

Provinsi

2012
19
Juara I Lomba Kaligrafi Tahun Baru Islam
Kabupaten
2012
Sumber: TU Pondok Pesantren Putera Al Falah Banjarbaru
6.    Keadaan Santri
Adapun jumlah santri di Pondok Pesantren Putera Al Falah Banjarbaru adalah 1.678 orang. Dengan perincian sebagai berikut:
1.    Santri yang memondok/mukim                     : 1.546 orang
2.    Santri yang pulang pergi/PP                         :    132 orang
3.    Siswa Madrasah Tsanawiyah                        :    709 orang
4.    Siswa Madrasah Aliyah                                :    300 orang  
Keseluruhan santri tersebut kalau diklasifikasi secara tingkatan adalah sebagai berikut; santri tingkat Tajhizi sebanyak 495 orang dengan 12 rombel. santri tingkat Wushta sebanyak  838 orang, dengan perincian santri tingkat I Wustha sebanyak 343 orang dengan 8 rombel, santri tingkat II Wustha sebanyak 301 orang dengan 7 rombel, dan santri tingkat III wustha sebanyak 194 orang dengan 5 rombel. Adapun santri tingkat Ulya terdiri dari 342 orang dengan perincian santri tingkat I Ulya sebanyak 110 orang dengan 3 rombel, santri tingkat II Ulya sebanya 115 orang dengan 3 rombel, dan santri tingkat III Ulya sebanyak 117 orang dengan tiga rombel.
Sementara dalam pengaturan ruang kelas, secara keseluruhan terdapat 41 ruang kelas yang masing-masing terdiri dari 12 kelas untuk santri tingkat Tajhzi.  Adapun santri tingkat Wustha terdapat 20 kelas dengan perincian 8 kelas untuk santri kelas I Wutha, 6 kelas untuk santri kelas II Wustha, dan 5 kelas untuk santri kelas III Wustha.  Adapun santri tingkat Ulya terdiri dari 9 ruang kelas dengan perincian; 3 ruang kelas untuk santri kelas I Ulya, 3 ruang kelas untuk santri kelas II Ulya, dan 3 ruang kelas untuk santri kelas III Ulya.
Tabel 2
Keadaan Santri Pondok Pesantren Putera Al Falah Banjarbaru
Tahun Pelajaran 2013/2014


No

Santri Kelas
Mukim
PP
Jumlah
Ket.
1
2
3
4
5
6
01
Tajhizi A 1
43
0
43

02
Tajhizi A 2
39
1
40

03
Tajhizi B 1
41
0
41

04
Tajhizi B 2
40
1
41

05
Tajhizi C 1
38
1
39

06
Tajhizi C 2
38
4
42

07
Tajhizi D 1
41
1
42

08
Tajhizi D 2
40
2
42

09
Tajhizi E 1
40
2
42

10
Tajhizi E 2
40
1
41

11
Tajhizi F 1
38
3
41

12
Tajhizi F 2
37
4
41

Total Santri Tajhizi
475
20
495






13
I A Wustha
40
3
43

14
I B Wustha
40
3
43

15
I C Wustha
41
3
44

16
I D Wustha
42
2
44

17
I E Wustha
41
1
42

18
I F Wustha
39
2
41

19
I G Wustha
41
2
43

20
I H Wustha
38
5
43

Jumlah Kelas I Wustha
322
21
343

20
II A Wustha
83
5
43

21
II B Wustha
39
3
42

22
II C Wustha
44
0
44

23
II D Wustha
39
6
45

24
II E Wustha
35
7
42

25
II F Wustha
39
3
42


II G Wustha
41
2
43

Jumlah Kelas II Wustha
275
26
301

26
III A Wustha
35
3
38

27
III B Wustha
33
5
38

28
III C Wustha
36
4
40

29
III D Wustha
36
2
38

30
III E Wustha
37
3
40

Jumlah Kelas II Wustha
177
17
194

Total Santri Wustha
774
64
838






31
I Ulya A
32
4
36

32
I Ulya B
32
5
37

33
I Ulya C
31
6
37

Jumlah kelas I Ulya
95
15
110

34
II Ulya A
36
2
38

35
II Ulya B
30
9
39

36
II Ulya C
33
5
38

Jumlah Kelas II Ulya
99
16
115

37
III Ulya A
39
0
39

38
III Ulya B
29
10
39

39
III Ulya C
28
11
39

Jumlah Kelas III Ulya
96
21
117

Total Santri Ulya
290
52
384


Sumber: TU Pondok Pesantren Putera Al Falah Banjarbaru
  

Tabel 3
Jumlah Santri Al Falah Awal dan Akhir Tahun Pelajaran

NO
Th.Pelajarn
Awal Tahun
Akhir Tahun

KET.
Santri
Santri
Keluar
Baru
Lama
Juml.
Baru
Lama
Juml.

1
2009 /2010
      377
   1.052
      1.429
       335
    1.034
     1.369
          60
 Lulus dan berhenti
2
2010 /2011
      444
   1.036
      1.480
       268
    1.004
     1.272
        208
 Lulus dan berhenti
3
2011 /2012
      418
   1.078
      1.496
       330
       775
     1.105
        391
Lulus dan berhenti

4
2012 /2013
      507
   1.106
      1.613
357
921
1.278
144
Lulus dan
Berhenti
5
2013 /2014
      495
1.180   
      1.675





Sumber: TU Pondok Pesantren Putera Al Falah Banjarbaru


Tabel 4
Data Asrama dan Penghuni Asrama
Pondok Pesantren Putera Al Falah Banjarbaru


No

Nama Asrama

Jumlah

No

Nama Asrama

Jumlah
01
Babussalam
24 orang
26
Inggris Area
30 orang
02
Babuthaibah
24 orang
27
Sa’ad
28 orang
03
Baburrahmah
24 orang
28
Said
30 orang
04
Babul Atiq
24 orang
29
Abdurrahman
30 orang
05
Baburridhwan
24 orang
30
Abu Ubaidah
30 orang
06
Abu Bakar
30 orang
31
Zabair
30 orang
07
Umar
30 orang
32
Zaid
30 orang
08
Utsman
30 orang
33
Hamzan 1
30 orang
09
Ali
30 orang
34
Hamzah 2
30 orang
10
Thalhah
30 orang
35
Ja’far 1
30 orang
11
Malik 1
30 orang
36
Ja’far 2
30 orang
12
Malik 2
30 orang
37
K.H.M. Tsani 1
30 orang
13
Malik 3
30 orang
38
K.H.M. Tsani 2
30 orang
14
Malik 4
30 orang
39
K.H.M. Tsani 3
30 orang
15
Malik 5
30 orang
40
K.H.M. Tsani 4
30 orang
16
Malik 6
30 orang
41
K.H.M. Tsani 5
30 orang
17
Malik 7
30 orang
42
K.H.M. Tsani 6
30 orang
18
Malik 8
30 orang
43
Muhajirin
20 orang
19
Malik 9
30 orang
44
Anshor
25 orang
20
Malik 10
30 orang
45
Tahfizh
30 orang
21
Malik 11
30 orang
46
Hasan
35 orang
22
Malik 12
30 orang
47
Husin
35 orang
23
Malik 13
30 orang
48
Bukhari
35 orang
24
Malik 14
30 orang
49
Muslim
35 orang
25
Arabec Area
30 orang
50
Maliki
30 orang
            Sumber: TU Pondok Pesantren Putera Al Falah Banjarbaru


7.    Keadaan Ustadz/Guru dan Karyawan
Adapun jumlah Ustadz, guru pelajaran umum, karyawan Pondok Pesantren Putera Al Falah Banjarbaru berjumlah   orang. Dengan perincian sebagai berikut:
a.         Ustadz                                                        : 64 orang
b.        Karyawan kantor                                        : 11 orang
c.         Petugas Perpustakaan                                 :   2 orang
d.        Petugas Dapur, tukang masak                    : 14 orang
e.         Petugas Kebersihan                                    :   6 orang
f.         Petugas Keamanan/Satpam                        :   4 orang
g.        Sopir                                                           :   1 orang
h.        Petugas Wartel                                           :   1 orang
i.          Guru Madrasah Tsanawiyah                       : 34 orang
j.          Guru Madrasah Aliyah                               : 24 orang
Ustadz yang mengajar di Pondok Pesantren Putera Al Falah Banjarbaru ada yang bermukim di pondok, dan sebagian lagi ada yang bermukim di luar pondok. Dari hasil dukomentasi peneliti dari 64 orang ustadz yang mengajar terdapat 37 orang ustadz yang bermukim di pondok dan 27 orang ustadz yang bermukim di luar pondok. Ustadz-ustadz yang bermukim di luar pondok kebanyakan dari mereka berada di daerah sekitar pondok, dan beberapa orang bertempat di daerah Martapura dan Banjarmasin.
Berikut jumlah ustadz berdasarkan satuan pendidikan dan status tinggalnya.
Tabel 5
Data Jumlah Ustadz Pondok Pesantren Putera
Al Falah Banjarbaru Tahun Pelajaran 2013/2014

No
Uraian
Mukim
PP.
Lk.
Pr.

Jumlah

01
Ustadz Tajhizi
12
3
15
0
15
02
Ustadz Wustha
16
17
33
0
33
03
Ustadz Ulya
09
7
16
0
16

Jumlah Ustadz
37
27
64
0
64
            Sumber: TU Pondok Pesantren Putera Al Falah Banjarbaru

Sedangkan karyawan kantor dari 13 orang masing-masing bertugas, antara lain:
1.    Empat orang bertugas sebagai bagian ketata usahaan, dengan perincian, satu orang kepala TU yang mempunyai tiga orang staf, masing-masing dari staf menangani administrasi tingkatan Ulya, Wustha dan Tajhizi.
2.    Empat orang bertugas sebagai bagian keuangan, dengan perincian, satu orang bertugas sebagai bendaharawan yang mempunyai tiga orang staf, masing-masing staf bertugas sebagai penerima infaq/SPP tingkat Ulya, Wustha dan Tajhizi.
3.    Satu orang bertugas sebagai penjaga bel perpindahan waktu jam pelajaran sekaligus bertugas sebagai tempat penitipan/wesel dan lain-lain.
4.    Satu orang bertugas sebagai petugas kebersihan kantor dan konsumsi.
5.    Satu orang bertugas sebagai kepala dapur.
Dua orang petugas perpustakaan satu orang bertugas sebagai kepala perpustakaan dan yang satunya lagi bertugas sebagai staf.
Adapun karyawan dapur adalah mereka yang betugas menyiapkan dan menyajikan makan setiap hari bagi santri, yaitu tiga kali sehari. Petugas dapur berjumlah 15 orang, 11 diantaranya adalah perempuan dan sisanya adalah laki-laki.
Sementara 6 orang petugas kebersihan adalah mereka yang setiap harinya menjaga kebersihan di komplek Pondok Pesantren Putera. Enam orang ini ada yang bertugas membersihkan sampah, membersihkan saluran air, saluran pembuangan dan mengangkus sampah ke TPA.
Selain itu untuk ketertiban dan keamanan komplek, pontren Al Falah mempunyai 4 orang petugas keamanan/satpam yang bertuga bergiliran selama 24 jam. Dari 4 orang satpam ini satu orang bertugas sebagai koodinator satpam, dan yang lainnya adalah sebagai anggota.
Untuk kelancaran transfortasi baik untuk para ustadz dan santri dan keperluan lainya terutama untuk keperluan dinas, Pondok Pesantren Putera Al Falah mempunyai seorang sopir. Selain itu untuk keperluan santri berkomunikasi dengan keluarga mereka maka disediakan warung telpon yang dijaga oleh seorang karyawan.
Tabel 6
Data Karyawan Kantor, Dapur, Kebersihan, Satpam dan Umum Berdasarkan Mukim & PP

No
Uraian
Mukim
PP
Jumlah
Ket.
1
Karyawan Kantor
11
2
13

2
Karyawan Dapur
14
3
17
3
Karyawan Kebersihan
2
3
5
4
Keamanan/Satpam
0
4
4

5
Penjaga Wartel
1
0
1
6
Sopir
1
0
1
Jumlah
29
12
41

            Sumber: TU Pondok Pesantren Putera Al Falah Banjarbaru
8.    Sarana dan prasarana
Pondok Pesantren Al Falah ini di bangun di atas tanah yang berstatus wakaf luasnya  kurang lebih 15 hektar, terdiri dari 2 lokasi, Putera dan Puteri dengan dibatasi oleh pagar tembok yang tinggi  dan dipasangi kawat berduri di atasnya.
Adapun sarana dan prasarana serta fasilitas pembelajaran di Pondok Pesantren Putera Al Falah Banjarbaru adalah sebagai berikut:
1.        Rung kelas                                             :  37 ruang
2.        Asrama                                                   :  46 ruang
3.        Perumahan guru/ustadz                         :  38 buah
4.        Mushalla                                                :    2 buah
5.        Kapitaria                                                :    1 buah
6.        Mini market                                           :    1 buah
7.        Balai pengobatan                                   :    1 buah
8.        Kantor dewan guru/ustadz                    :    3 buah
9.        Perpustakaan                                          :    2 buah
10.    Gudang                                                  :    2 buah
11.    Asrama karyawan dapur                        :    3 buah
12.    WC/toilet                                               : 100 buah
13.    Kolam mandi                                         :    6 buah
14.    Lapangan sepak bola                             :    1 buah
15.    Lapangan sepak bola mini                     :    1 buah
16.    Lapangan bola volley                             :    2 buah
17.    Lapangan sepak takraw                         :    4 buah
18.    Lapangan basket                                    :    1 buah
19.    Tenis meja                                              :    4 buah
20.    Tempat wudhu                                       :    3 buah
21.    Penginapan                                            :    6 buah
22.    Ruang tunggu berkunjung                     :    1 buah
23.    Watel                                                     :    1 buah
24.    Lab Komputer                                       :    1 buah

25.    Gedung olah raga (GOR)                      :    1 buah

Catatan: Data diambil pada Tahun Pelajaran 2013/2014