Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 November 2019

Jihad Zaman Now

Jihad Zaman Now



Photo: Eksklusif


Bagaimana cara mengartikan jihad di zaman now? Sehingga tidak tersalah mengartikan jihad hanya sebatas perang melawan orang kafir saja. Tulisan singkat ini mencoba untuk mengulik hal itu. 

Berjuang mempertahankan hidup demi tercapainya sebuah cita-cita merupakan bagian dari jihad. Kalau melihat dari makna jihad itu sendiri, yaitu; bersungguh-sungguh. Yakni bersungguh -bermujahadah- untuk menjadikan masa depan lebih baik. Sehingga tidak mudah terbawa kepada hal-hal yang bersifat negatif.

Mereka yang bersekolah dengan tujuan agar tidak menjadi terbelakang, karena miskin pengetahun yang berdampak pada sulitnya mendapatkan pekerjaan --walaupun tidak terlalu tepat bila sekolah selalu dikaitkan dengan dunia kerja-- adalah bagian dari jihad tadi. Mereka yang berjuang keras agar generasi dibelakangnya tidak menjadi generasi yang lemah, baik dari segi mental, fisik dan lain sebagainya juga bagian dari jihad. 


Jihad jangan diartikan secara sempit, hanya sebatas mengangkat senjata untuk memerangi orang kafir saja. Mengartikan jihad hanya pada sebatas perang bisa menyebabkan kita terjebak pada penyempitan makna jihad itu sendiri. Kita sudah berada pada zaman yang jauh berbeda dari zaman ketika kita masih dijajah oleh orang-orang koloneal. Jihad sekarang bukan lagi mengangkat pedang untuk memerangi orang kafir di medan perang. Tapi jihad saat ini adalah bagaimana kita mengangkat pena agar terhindar dari keterbelakangan. Bagaimana kita bisa lepas dari jerat kemiskinan, baik miskin materi, lebih-lebih lagi miskin pengetahuan.


Kemiskinan ibarat mata rantai yang sambung menyambung yang sangat sulit untuk diputuskan. Perlu usaha keras untuk bisa memutus mata rantai kemiskinan. Miskin dari segi materi mungkin tidak terlalu berbahaya, namun miskin pengetahun akan berakibat kepada miskin pikiran. Orang mungkin, bisa dengan mudah keluar dari miskin materi, asal mau bekerja sedikit lebih keras, gigih, tapi tidak dengan miskin pengetahuan. 


Orang-orang yang miskin pengetahuan (baca tidak berilmu) akan mudah diombang ambingkan keadaan, karena ketiadaan (minimnya) nalar dalam merespon informasi yang didapat. Jadilah semua informasi ditelan mentah-mentah tanpa ada proses penyaringan. Mereka yang punya pengetahuan akan mampu memfelter setiap informasi yang diterima, kemudian menyaringnya dan memilah mana informasi yang laik dikonsumsi dan mana yang tidak.


Begitu masif dan derasnya informasi yang kita terima, terutama dari media-media seperti televisi, media sosial dan lain sebagainya, bila tidak barengi dengan penyaringan yang baik bukannya menjadikan kita bertambah cerdas, malah bisa-bisa menjadi sebaliknya. Jadilah bodoh di zaman berkelimpahan ilmu pengetahuan atau malah menjadi gila di zaman di mana orang-orang berlomba-lomba untuk menjadi waras. 


Jadi, jihad di zaman now adalah jihad memerangi diri kita sendiri, yakni jihad melawan kebodohan agar kita senantiasa menjadi orang yang waras, tidak gila.


Wassalam...

Minggu, 15 September 2019

Santri, Kitab Kuning dan Keberkahan



Dimanakah Anda mengenal pertama kali kitab kuning? Mungkin sebagian besar akan menjawab ketika berada di pesantren. Ya, kitab kuning dan pesantren memang dua hal yang tidak bisa dipisahkan, selain dari beberapa unsur lainnya, seperti asrama/pondok, Kiyai, santri dan masjid/mushalla sebagai pusat kegiatan ibadah, pembelajaran, maupun kegiatan keagamaan lainnya.

Kitab kuning atau kitab klasik (al-kutub al-shafra' atau al-kutub al-qadimah) dikalangan pesantren dikenal dengan ‘kitab gundul’ karena tidak menggunakan baris atau harokat. Sebagai seorang santri menenteng kitab kuning ketika berangkat ke kelas atau ke pengajian merupakan kebanggaan tersendiri. Wajar saja, karena kitab kuning merupakan elan vital yang menjadi ciri khas dalam tradisi akademik pesantren.

Kitab kuning sangat dihormati, ia dijadikan sebagai acuan berfikir dan bertingkah laku dikalangan santri di pesantren dan dianggap paling absah. Kitab kuning juga dianggap sakral, ia diletakkan ditempat yang tinggi, dibawa dengan diletakkan di atas dada, dicium setelah dibaca, hal ini karena kitab kuning ditulis oleh ulama dengan kualifikasi ganda, keilmuan yang tinggi dan hati yang disinari cahaya Ilahi. Karena itulah menghormati orang yang berilmu dan memuliakan karya-karya mereka adalah hal yang diharuskan dalam dunia pesantren.

Mengkoleksi kitab kuning, menyusunnya berjejer dengan rapi dan memajangnya di rak pribadi apalagi cetakan Beirut, bagi santri atau mereka yang pernah bersekolah di pesantren adalah pemandangan yg sering kita lihat. Selain mengharap berkah, barangkali ini adalah semacam pengukuhan identitas diri di masyarakat, terutama pada masyarakat tradisional dan religius.




Tahun pertama berada di pesantren, kami belum diwajibkan mempelajari kitab kuning. Tahun pertama adalah kelas persiapan (tajhiziyah) sebelum memasuki jenjang Wustha (tingkat menengah). Melihat para santri pada tingkat yang lebih tinggi, menenteng kitab yang besar-besar ketika berangkat maupun pulang belajar membuat kami yang baru berada ditingkat awal ini merasa ngiri. Betapa keren dan gagahnya  mereka dalam pandangan kami sebagai santri baru. Rasanya tidak sabar inggin naik tingkat kelas supaya bisa juga menenteng kitab-kitab itu seperti mereka. Padahal saat itu belum terpikirkan apakah kami dapat membaca kitab-kitab itu nantinya.

Sebagian orang mungkin beranggapan bahwa, mereka yang bersekolah di pesantren semuanya pasti bisa membaca kitab kuning. Kenyataannya tidak. Selama enam atau tujuh tahun sekolah di pesantren tidak menjamin santri bisa dengan mudah membaca kitab kuning. Tanpa memahami dan menguasai ilmu-ilmu alat, seperti Nahwu, shoraf, ditambah dengan perbendaharaan kosa kata bahasa Arab yang memadai, dijamin orang tidak akan bisa dengan mudah membaca kitab kuning. 

Ilmu Nahwu selain hapalan titik tekannya adalah pada pemahaman. Ilmu shoraf juga pemahaman tapi titik tekannya pada hapalan, demikian juga bahasa, harus banyak-bayak hafal kosa kata, flus sering-sering latihan. Dengan menguasai ketiga disiplin ilmu inilah seorang santri kelak dapat membaca dan memahami kitab kuning. Untuk mendapatkan kemampuan dan pemahaman yang lebih bagus lagi para santri harus menambah lagi dengan pengetahuan pendukungya, yaitu; ilmu Mantiq dan Balaghah.

Begitulah, perlu bertahun-tahun bagi santri untuk dapat membaca dan memahami kitab kuning, itupun mesti harus dibarengi dengan kerja keras dan ketekunan yang mendalam. Karena itulah tidak jarang kita temui --artinya masih banyak-- santri yang relatif lama bersekolah di pesantren, namun penguasaannya dalam membaca dan memahami kitab kuning masih lemah.

Karena itulah guru-guru selalu menasehati kepada kami para santrinya agar senantiasa belajar dan terus mutalaah kalau benar-benar ingin bisa membaca dan memahami kitab kuning dengan baik. Jangan sampai seperti Alquran karam (bahasa Banjar, untuk menyebutkan Alquran yang sudah lusuh yang halamannya sebagian sudah tidak lengkap lagi). Dibaca kada kawa (dibaca tidak bisa, karena sebagian halamannya sudah hilang), dibuang mangatulahani (dibuang bisa bikin kualat). Artinya santri yang memilki ilmu yang tanggung hampir-hampir tidak ada gunanya di masyarakat nanti apabila sudah selesai di pesantren.




Namun, kata guru lagi, senakal-nakalnya orang yang pernah bersekolah di pesantren, masih ada batasannya. Maksudnya walaupun ia nakal, suatu saat dia pasti akan bertaubat dan akan menjadi orang baik. Begitulah cara guru-guru kami mendidik kami, do’a mereka selalu menyertai walau bagaimanapun keadaaan para santrinya, mereka tetap dido’akan supaya mereka mendapat keberkahan dalam hidupnya kelak.

Kami dan Kecintaan terhadap Tanah Air






Tentara Sekutu memasuki kota Bandung bulan Oktober 1945, para pemuda dan pejuang di kota Bandung sedang dalam pergulatan untuk melaksanakan pemindahan kekuasaan dan merebut senjata dan peralatan dari tangan tentara Jepang.

Tentara Sekutu menuntut supaya senjata-senjata yang diperoleh dari hasil pelucutan tentara Jepang dan berada di tangan para pemuda, diserahkan kepada Sekutu. Tanggal 21 November 1945, tentara Sekutu mengeluarkan ultimatum pertama, agar kota Bandung bagian utara selambat-lambatnya tanggal 29 November 1945 dikosongkan oleh pihak Indonesia dengan alasan untuk menjaga keamanan.

Ultimatum tersebut tidak diindahkan oleh para pejuang Republik, sehingga sejak saat itu sering terjadi insiden dengan pasukan-pasukan Sekutu. Batas kota bagian utara dan bagian selatan adalah rel kereta api yang melintasi kota Bandung.

Untuk kedua kalinya pada tanggal 23 Maret 1946 tentara Sekutu kembali mengeluarkan ultimatum. Kali ini supaya TRI mengosongkan seluruh kota Bandung.
Pemerintah RI di Jakarta memerintahkan agar TRI mengosongkan kota Bandung, tetapi sementara itu dari markas TRI di Yogyakarta datang intruksi lain, yaitu supaya kota Bandung tidak dikosongkan.

Akhirnya TRI di Bandung mematuhi perintah dari Jakarta walaupun dengan berat hati. Sebelum meninggalkan kota Bandung pejuang-pejuang Republik melancarkan serangan umum ke arah kedudukan-kedudukan Sekutu dan membumi hangus kota Bandung Selatan.

Jadilah kota Bandung bagian selatan dibakar menjadi lautan api oleh para pejuang sebelum meninggalkan kota Bandung pada tanggal 23 Maret 1946. Peristiwa ini dikenal sebagai “Bandung lautan api”. Oleh seniman terkenal Ismail Marzuki diabadikan dengan suatu mars perjuangan yang sangat terkenal, ‘Halo-Halo Bandung”.

Halo, Halo Bandung,
Ibukota Pariangan,
Halo, Halo Bandung,
Kota kenang-kenangan.

Sudah lama beta,
Tidak bejumpa dengan kau,
Sekarang telah menjadi lautan api,
Mari Bung rebut kembali.

Ketika masih sekolah dasar kami dengan semagat kami menghapal lagu-lagi wajib yang di ajarkan di sekolah. Lagu-lagu perjuangan kami nyanyikan dengan penuh semangat, temasuk mars Halo, halo Bandung ini.

Masalahnya, kami anak-anak Kalimantan yang sebagian besar dari suku Dayak dan Banjar tidak mengenal istilah 'beta' atau 'bung'. Jadilah ketika menyanyikan bait terakhir lagu Halo, Halo Bandung yang mestinya: "Mari Bung rebut kembali", malah terpeleset menjadi berbunyi: "Maribung ribut kembali..." Dengan peninggikan pada bunyi bung dan but..nya.

Sebenarnya bukan itu saja lagu-lagu perjuangan yang kami sering terpeleset dalam penyebutnya, misalnya lagu Garuda Pancasila, pada bait: "Pribadi Bangsaku" alih-alih menyebutnya "pribadi bangsaku, kami justeru menyebutnya dengan: "Ribang-ribang satu..." Masih lagu yang sama, yang seharusnya dinyanyikan dengan: "Akulah pendukungmu", kami justeru menyanyikan dengan: "Akulah panduku muu.."

Sekalipun kadang tersalah menyebut dalam menyanyikan, tapi tidak mengurangi semangat kami untuk mencintai negeri ini. Kami selalu bersemangat menyanyikannya dalam setiap kesempatan, walaupun ketika itu kami belum tahu bahwa Ibukota negara akan dipindahkan ke Kalimantan...





Minggu, 03 Februari 2019

Fenomena Ziarah



Ziarah kubur adalah bagian terpenting dalam tradisi keberagamaan kaum santri, baik ketika masih berada di pesantren maupun ketika sudah berada di luar pesantren. Secara bahasa ziarah berarti mengunjungi, dengan makna yang umum. Bila kita tambahkan kata dibelakangnya "ziarah kubur", berarti "mengunjungi kuburan". Lazimnya ziarah kubur berarti datang ke kubur orang yang telah meninggal dengan tujuan mendo'akan agar mendapat ampunan dan terhindar dari azab 'alam barzakh (alam kubur).

Kaum santri, paling tidak, membagi ziarah kepada dua bagian;  pertama kepada orang biasa, seperti teman, keluarga, atau orang tua yang telah meniggal dunia. Ziarah kepada teman atau keluarga biasanya bertujuan untuk mendoakan agar orang yang diziarahi mendapat ampunan dari Allah atas dosa-dosanya selama hidup di dunia. Demikian juga ziarah kepada kedua orang tua.

Kedua, ziarah kepada orang-orang shalih, ulama dan para wali. Bagi santri, ziarah kepada orang-orang ini tidaklah bertujuan untuk mendoakan agar diampuni dosa-dosa mereka. Bagi mereka para wali, orang shalih dan alim adalah orang-orang yang terpelihara dari dosa. Alih-alih mendoakan, malah justeru kita yang minta barokah kepada mereka agar diberikan petunjuk oleh Allah dalam mengarungi kehidupan.

Makam para wali dan orang-orang alim ini selalu ramai dikunjungi sepanjang waktu, yang sebagian besar terdiri dari kaum santri. Di sinilah mereka bermunajat, memohon kepada Allah agar dikabulkan hajat dan dimudahkan segala urusan. Bagi sebagian lagi, ziarah dijadikan sebagai sarana untuk bertafakur, merefleksi diri, serta melembutkan hati dengan mengingat mati.

Wisata Ziarah

Beberapa tahun belakangan terjadi penomena baru soal ziarah ini. Ziarah tidak melulu soal akhirat, sakral dan tidak ada hubungannya dengan keduniaan. Orang-orang menjadikan ziarah selain untuk berdoa juga sekaligus untuk bewisata. Penomena ini dikenal juga dengan wisata relijius. Selain beribadah dalam rangka berziarah kepada para wali --daerah Kalimantan, terutama Kalimantan Selatan, menyebutnya ziarah kepada para datu-- sekaligus juga dijadikan sebagai wahana untuk berekreasi. Bagi beberapa daerah ziarah kubur justeru dijadikan sebagai alternatif pengembangan tradisi yang bermanfaat secara sosial dan ekonomi.

Yang kita khawatirkan adalah bahwa akan terjadi pendangkalan (kehilangan) makna yang sesungguhnya dari ziarah itu sendiri. Orang bisa saja lupa bahwa tujuan berziarah adalah sebagai sarana untuk bertafakur, merefleksin diri, melembutkan hati dengan mengingat kepada kematian.

Karena itu beberapa tokoh berkelakar soal penomena ini. Kalau orang dari hulu sungai berziarah kepada para datu, nanti perjalanan terakhirnya ditutup berziarah kepada datu mall. (pelesetan dari sebuah tempat perbelanjaan terbesar di Kalimantan Selatan; Duta Mall). Jangan-jangan selama perjalanan ziarah itu orang berfikir yang utama adalah ke tempat perbelanjaannya, bukan ziarah kepada para wali dan datu tadi.

Demikian juga ketika ziarah ke pulau Jawa, orang-orang ziarah mulai dari Jawa Timur di Surabaya dengan perjalanan panjang berziarah kepada wali-wali, terutama sembilan wali. Nanti terakhirnya ditutup ziarah ke Tugu Monomen Nasional (Monas) di Jakarta dan tempat perbelanjaan Pasar Tanah Abang, misalnya.[]




Ngalap Berkah Ala Santri


Kita yang pernah belajar di pesantren tentunya tidak asing lagi dengan istilah berkah. Misalnya yang paling kita ingat adalah ketika berebut sisa makanan atau minuman para guru kita.




Kata berkah atau dalam bahasa arab barokah berarti 'bertambah'. Ungkapan lainnya adalah 'tabaruk' atau 'tabarukan', yang bisa diatrikan 'mengambil' atau 'mencari berkah'. Ngalap berkah dalam istilah Jawanya.

Berkah atau barokah dalam bahasa Arab diartikan dengan ziyadatul khair, yaitu bertambahnya kebaikan pada diri seseorang. Adapun makna barokah dalam Alquran dan sunnah adalah langgengnya kebaikan.

Dalam praktiknya, usaha santri dalam meraih keberkahan tidak hanya dengan belajar saja, artinya yang berkaitan dengan keilmuan saja. Tetapi juga dalam bentuk seperti yang disebutkan tadi di atas, bisa juga dalam bentuk berziarah ke makam guru, kiai atau orang alim, berdo'a, mengaji, atau tahlilan.

Tabarukan, mengambil berkah juga bisa minta do'akan kepada guru, kiai atau orang alim tadi, karena kaum santri meyakini bahwa do'a mereka mustajab lantaran kezuhudan dan kealimannya. Nilai dan restu dari guru, kiai dan orang alim bagi para santri tidak bisa ditukar dengan materi.

Mencium tangan para guru, kiai atau orang alim juga bentuk tabarukan lainnya yang dilakukan oleh kaum santri. Tidak hanya sampai di situ, bahkan menyusun atau menata sandal (alas kaki) dengan menghadapkannya ke arah guru, kiai atau orang alim ketika mereka ke masjid atau di suatu majlis.



Bahkan, dalam kebiasaan santri, keberkahan juga bisa dikaitkan dengan membawa oleh-oleh ketika acara selamatan atau hajatan selesai dilaksanakan.


Jangan Terperdaya oleh Latah Musiman


Beberapa tahun dahulu beredar di tengah-tengah masyarakat sebuah ungkapan "Banyak anak banyak rezeki." Ungkapan itu sedikit banyaknya mempengaruhi pandangan masyarakat awam perihal ‘memproduksi’ keturunan. Dalam konteks dahulu, pandangan seperti itu mungkin sah-sah saja. Karena pada masa itu tenaga manusia memang sangat diperlukan untuk membuka lahan yang masih luas dan tidak terbatas.

Mereka yang mempunyai anak yang banyak, apa lagi laki-laki, tentu akan sangat membantu orang tuanya, ikut membuka lahan, menanami, makin banyak lahan yang ditanami, makin banyak rezeki yang di dapat. Di sini berlaku, banyak anak, banyak rezeki.

Lain dulu, lain sekarang. Kalau dulu orang punya anak banyak, akan berkelimpahan rezeki. Zaman sekarang itu mungkin tidak begitu relevan lagi. Bisa saja banyak anak, bukannya rezeki yang didapat tetapi malah bencana, atau malah bisa membikin bangkrut, apabila anak-anaknya tidak mendapatkan pendidikan yang mamadai.

Saat ini di pedesaan, apalagi perkotaan, tanah dan lahan yang dimiliki oleh masyarakat tidak seluas dulu lagi. Tanah dan lahan yang dahulu subur kini sudah beralihfungsi menjadi tempat pemukiman yang padat. Kalaupun masih dalam bentuk lahan, itupun tidak dimiliki sepenuhnya oleh para petani. Kebanyakan lahan sudah dikuasai oleh korporasi. Jadilah masyarakat hanya sebagai buruh dari lahan-lahan yang dahulunya kepunyaannya itu.

Pekerjaan makin sulit didapat. Lahan makin sempit. Itulah yang dirasakan masyarakat kelas bawah saat ini. Mereka yang punya tanggungan keluarga lebih banyak tentu harus berpikir keras untuk dapat menghidupi keluarganya. Itu baru untuk menghidupi lho, belum lagi kalau berbicara masalah pendidikannya. Dapat dibayangkan bagaimana susahnya.

Pertumbuhan penduduk dari tahun ke tahun terus meningkat. Umat manusia sudah sangat banyak, bumi ini sudah semakin sesak. Manusia yang dilahirkan lebih banyak dari manusia meninggal. Jadilah bumi yang satu-satunya ini sebagai tempat kehidupan menjadi rebutan. Yang kuat menindas yang lemah, yang kaya menindas yang miskin, jadilah yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin, karena ketiadaan pemerataan. Bukan karena bumi dan alam ini tidak mampu menyediakan kebutuhan penghuninya, masalahnya adalah, kekayaan yang dimilikinya hanya dikuasai oleh segelintir manusia rakus yang tidak pernah puas kecuali bumi (baca tanah) itu sendiri yang diciumkan ke hidung mereka.

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat itu ternyata hanya sebuah selogan belaka. Dulu di masa orde baru, ketika kami masih sekolah SD, sambil berdiri tegak dan bersuara lantang, kalimat inilah yang kami dengungkan setiap pagi sebelum belajar dimulai. Namun, justeru rezim itulah yang menggasak kekayaan alam ini selama lebih dari 3 dasawarsa. Keadilan itu bukan bagi seluruh rakyatnya, tapi bagi antek-anteknya.

Setelah cengkraman rezim itu berlalu, asa untuk mendapatkan kedilan itu kembali bertunas. Namun harapan tinggal harapan, kenyataannya keadilan tak kunjung tiba. Dulu saja, ketika semua orang mulai dari para elit sampai rakyat jelata, hapal di luar kepala sila-sila itu hingga sila ke lima, itupun, mereka tak perduli kepada rakyat. Apalagi kini, mereka, para elit penyelenggara negara itu justeru tak hapal dasar negara. Ah, kita ragu semua itu. Jangan-jangan keadilan itu hanya sebagai alat pemanis kata untuk meninabobokan kita.

Hutan-hutan digunduli, isi bumi di kuras habis-habisan. Tambang batu bara, minyak bumi, batu besi, timah, emas, dan lain-lain, siapa penikmatnya? Segelintir orang. Lalu rakyat dapat apa? Dari dulu rakyat hanya dapat asap polusi dari pembakaran hutan. Rakyat harus puas dengan menghirup asap dan debu batu bara. Rakyat harus menanggung derita karena ancaman banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau. Sekali lagi di mana letak keadilan.

Sudah berapa kali berganti kepala negara, adakah yang berubah dari rakyat jelata? Sudah berapa kali berganti pemimpin adakah yang berubah dari kita? Dari pemilu ke pemilu, kita merangkai asa di dalam bilik keramat itu untuk mendapatkan pemimpin yang adil. Dari pemilu ke pemilu juga kita ditipu mentah-mentah oleh mereka.

Kini hajatan akbar itu hampir tiba, seperti biasa rakyat kembali di elu-elukan. Tiba-tiba saja mereka seolah dekat dengan rakyat. Segala cara di tempuh hanya untuk mendapatkan suara rakyat. Semua daya dan upaya dikerahkan, tak perduli hukum dan tatak rama, semuanya di langgar, asal dapat mendulang suara. Berita-berita hoax dihembuskan. Isu dan fitnah disebarkan. Ketenangan rakyat diobok-obok. Mereka yang dulunya hampir tak kenal agama, tiba-tiba bersuara lantang tentang agama. Ah, begitukan pemimpin yang akan kita pilih dan memimpin kita lima tahun kedepan?

Tiba-tiba saja simbol-simbol keislaman bermunculan, lihatlah; Kiai, santri, tauhid, ulama, masjid, dan lain-lain menjadi ramai diperbincangkan. Kalau perlu orang yang di dalam kuburan pun mereka bangunkan demi syahwat berkuasa. Simbol-simbol agama yang harusnya sakral itu dipolitisasi sedemikian rupa.

Sudahlah, kita jangan lagi terperdaya oleh latah musiman itu.


Selasa, 13 November 2018

CARA KAMI 'MENCIPTAKAN' KEBAHAGIAAN


Di daerah kami Kalimantan, Saat menanan atau mengetam padi para petani biasanya melakukannya bersama-sama (bergotong royong) dengan melibatkan banyak orang.  Laki-laki, perempuan, tua, muda, bahkan anak-anak beramai-ramai pergi ke pahumaan (sawah) ketika musim tanam atau musim panen tiba.  Musim tanam dan musim panen biasanya tidak serempak antara satu kampung dengan kampung lainnya.  Sekalipun mayoritas petani menanam menyesuaikan dengan keadaan alam (sawah tadah hujan). Sawah-sawah yang berada di daerah dekat dengan aliran sungai utama biasanya memulai menanam agak lebih lambat dari sawah-sawah berada lebih jauh. Hal ini dipengaruhi oleh ketersediaan air di sawah-sawah mereka.

Petani-petani yang padinya sudah siap ditanami atau dipanen mengambil jasa dari kampung lain yang belum masanya menanam atau memanen. Atau, bisa juga mereka datang sendiri ke kampung-kampung menawarkan jasanya. Siklus yang tidak merata ini tentu saja memudahkan para petani, terutama bagi mereka yang memerlukan banyak tenaga dan, tentu saja menambah pemasukkan bagi pemberi jasa (pambilupahan), termasuk bagi para buruh tani.

Begitulah suatu penomena biasanya melahirkan penomena lain yang menjadi turunannya. Berkumpulnya orang-orang terutama muda mudi sering kali dimanfaatkan sebagai ajang perkenalan atau pencarian jodoh. Sering kali para muda mudi mendapatkan jodohnya melalui peristiwa musiman ini. Di kampung-kampung jarang sekali ada perkumpulan-perkumulan yang dapat mempertemuan laki dan perempuan, terutama para muda mudi.  Pada awalnya mungkin mereka hanya berkenalan saja, atau bahkan hanya selorohan saja oleh orang-orang untuk memanas-manasi, dan hal tersebut bisa membuat mereka terpancing, dan justeru itulah yang menjadikan mereka menemukan jodohnya.

Saya ketika masih kecil sering ikut kegiatan ini, menanam atau memanen, terutama bila dilaksanakan di tempat orang tua saya. Disamping rasa senang dan riang juga sebagai ajang belajar bagi saya agar terampil menggunakan alat-alat pertanian yang sangat tradisional. Saya belum berani ikut mambilupah karena kemampuan saya masih belum sehebat dan seprofesional orang-orang. Selain itu saya senang mendengar orang-orang sambil bekerja sambil berceloteh, bercerita ngalur ngidul, menyerempet kesana kemari, sambil diiring dengan canda tawa hingga payah bekerja di tengah terik matahari tidak begitu terasa.

Masyarakat kami (sebagian besar suku Banjar dan Dayak) memang pandai bercanda, membangun cerita dan tokoh emajener seperti yang terkenal dengan tokohnya si Palui. Ada banyak cerita, sebagian cerita ini terulang-ulang dikisahkan. Biasanya cerita yang sama diceritakan oleh orang yang berbeda melahirkan kelucuan terendiri. Atau malah sama sekali tidak lucu.

Diam-diam saya mendengarkan dan mencermati apa yang mereka bicarakan, jujur saja aku merasa terhibur dengan celotehan-celotehan itu. Tidak terasa hari sudah beranjak siang, pertanda istirahat dari bekerja sebentar lagi tiba. Kegiatan ini biasanya dimulai sejak pukul 07.00 dan berakhir sekitar pukul 12.00, atau lebih awal lagi. Sekitar pukul 10.00-han biasanya ada istirahat untuk makan-makan. Makanan yang disajikan bisa makanan ringan atau bisa juga makanan yang lengkap, nasi, sayur, plus lauk-pauk yang enak. Makan di tengah sawah, sehabis capek dari bekerja sungguh nikmat sekali, walaupun dengan lauk-pauk dan sayuran seadanya. Karena itulah para petani rata-rata porsi makannya banyak-banyak.

Dangdut adalah musik yang akrab menemani mereka saat bekerja. Kenapa musik dangdut? Karena lagu-lagu dangdut mudah dicerna sehingga tidak susah untuk diterima. Bahasanya yang lugas dan sederhana sangat mudah dipahami oleh masyarakat kelas bawah, seperti kami para petani. Irama musiknya yang sangat melankolik sangat cocok dengan kehidupan kami para petani dalam mengekspresikan kehidupan yang kami jalani.

Karena itulah ketika berangkat ke tempat kerja, baik ke sawah, kebun atau lainnya yang tidak bisa ketinggalan selain bekal, 'peralatan perang', serta rokok dan korek api, adalah radio kecil. Mereka setia mendengarkan channel-channel radio yang memutarkan (karena dahulu menggunakan kaset) lagu-lagu dangdut sebagai penghibur sambil bekerja. Saat ini yang dibawa bukan lagi radio, tapi HP yang bisa digunakan untuk memutar radio kesayangan atau memutar lagu koleksi mereka sendiri melalui aplikasi yang ada di handphone tersebut.

Begitulah, sesulit apapun dan seberat apapun suatu pekerjaan ternyata ada cara-cara tersendiri yang bisa dilakukan untuk menciptakan kebahagiaan. Begitupun pula orang-orang yang telah saya ceritakan di atas. Mereka telah menciptakan kebagiannya sendiri tak perduli apa yang terjadi yang penting bisa bekerja dan menghasilkan, orang Banjar mengatakan “asal dapur haja kawa bakukus,” artinya masih ada yang bisa dimasak yang berarti bahwa perut bisa kenyang, yang berarti juga bisa menyambung hidup untuk hari esok.

Sabtu, 02 Juni 2018

Tuan Guru K.H. Muhammad Sani

TUAN GURU KH. MUHAMMAD SANI




Guru Sani, pendiri pondok pesantren Al Falah terkenal sebagai seorang figur yang sangat dipercaya oleh masyarakat di zamanya, karena kejujuran dan itegritas serta kepribadian yang terpuji yang dimiliknya. Beliau sering, dan bahkan secara rutin meminta bantuan sumbangan dari para pedagang di pasar-pasar di dekat kediaman beliau. Konon Guru Sani sempat diberi gelar sebagai tukang tagih pajak (penadah pajak) disebabkan ketegasan beliau dalam melaksanakan penagihan, Guru Sani bahkan menentukan sediri besaran yang harus disumbangkan oleh para dermawan. Karen itulah Guru Sani sangat dikenal oleh para pedagang, khususnya masyarakat Alabio, dan dianggap sebagai tuan guru mereka. 

Pada bulan puasa Guru Sani juga suka menjamu berbuka puasa masyarakat di sekitar langgar beliau. Sepanjang hidup beliau tercatat sebanyak 22 kali berhaji baik sendiri maupun membawa rombongan. Pada tahun 1980 Raja Arab Saudi memberikan sumbangan sebesar Rp. 63.704.110 dari dana ini kemudian dibangunkan asrama di pondok pesantren Al Falah Putra oleh beliau.

Konon K.H. Muhammad Sani berteman karib dengan Dr.K.H. Idham Chalid seorang tokoh NU asal Kalimantan Selatan. Suatu saat Guru Sani, begitu ia sering disapa, dipercayakan oleh Idham Khalid untuk membangun sebuah Madrasah di Jakarta yang diberi nama Darul Ma’arif. Setelah pembangunan madrasah selesai, Guru Sani ditawari oleh Idham Chalid untuk memimpin madrasah tersebut. Namun tawaran Idham Chalid ditolak dengan halus. 

Beliau mengatakan bahwa masyarakat Kalimantan Selatan masih perlu perhatian dalam hal pendidikan. Menurut pandangan Guru Sani masyarakat Kalimantan, khususnya Kalimantan Selatan masih sangat tertinggal jauh jika dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Nusantara ini.
HUBUNGAN KIAI SANTRI

Kiai Mustofa Bisri (Gus Mus) mengisahkan tentang hubungan yang luar biasa antara kiai dan santri di pesantren-pesantresn salaf. Menurut Gus Mus di pesantren, kiai-kiai yang mukhlis mereka memang betul-betul ikhlas dalam segala tindakannya lillah, hanya karena Allah. Bahkan banyak kiai yang menganggap tabu beramal lighairillah, beramal tidak karena Allah tapi agar dihormati oleh orang lain.

Gus Mus mencontohkan, misalnya pesantrin salaf pada umumnya adalah benar-benar milik kiai. Santri hanya datang dengan bekal hidupnya sendiri di pesantren. Bahkan ada atau banyak santri yang hanya untuk hidupnya pun menumpang’ dari kiai.
Kiai semacam ini menurutnya ibarat mewakafkan diri dan seluruh miliknya untuk para santri. Dia memikirkan, mendidik, mengajar dan mendo’akan santrinya tanpa pamrih. Bukan saja saat santri itu mondok di pesantrennya, tetapi juga ketika mereka sudah terjun di masyarakat.

Contoh lain adalah ayahanda Gus Mus sendiri, Kiai Bisri Musofa, beliau sering diundang pengajian ke luar kota dan tidak jarang panitia memaksanya untuk mengisi pengajian pada hari-hari dimana pesantren tidak libur. Bila harus melakukan hal yang seperti itu, beliau selalu bermunajat kepada Allah sebelum naik mimbar, “Ya Allah, Engaku tahu hamba datang ke sini karena diminta saudara-saudara hamba untuk menyampaikan firman-firman-Mu dan sabda-sabda Rasul-Mu; namun sementara hamba di sini, santri-santri hamba yang hamba tinggal di pesantren prei tidak hamba ajar. Oleh karena itu, ya Allah, apabila amal hamba di sini ada pahalanya, hamba mohon tidak usah Engkau berikan kepada hamba; ganti saja pahala itu dengan kefutuhan hati santri-santri hamba tersebut.” 

Gus Mus juga menyebutkan beberapa kiai lain yang dengan penuh keikhlasan berkhidmat demi kebaikan santrinya. Seorang kiai di Solo, pernah meminta kepada lurah pondok pesantrenya untuk menuliskan daftar santri yang ternakal agar ketika bertahajut mendo’akan para santri beliau bisa mengkhususkan nama-nama santri ternakal tersebut. 

Kiai Maksum, di Lasem, menurut Gus Mus, bukan hanya setiap waktu membangunkan santri-santrinya untuk sholat dan belajar, mendo’akan mereka setiap kali berdo’a, dan kemanapun beliau pergi selalu menyempatkan berkunjung ke rumah beliau yang beliau lewati, sekedar untuk melihat keadaannya.

Minggu, 27 Mei 2018

CERITA LUCU PARA KIAI BERSAMA MOBIL BUTUT

KH. Saifuddin Zuhri menulis pengalaman lucunya bersama KH. Idham Chalid di buku otobiografinya yang berjudul Guruku Orang-Orang Dari Pesantren.
Suatu hari Idham Chalid datang ke parlemen dengan mobil merk “Human” berwarna hijau tua. Mobil ini adalah mubil bekas. Maklumlah waktu itu (sekitar tahun 1950-han) tidak semua orang punya mobil walaupun berstatus sebagai anggota parlemen. Kalaupun ada tentu saja itu adalah mobil bekas butut dan sudah sangat tue.
Idham Khalid berbisik kepada Saifuddin Zuhri bahwa ia membawa sebuah mobil, sambil menunjuk kearah mobil kecil yang terparkir di bawah pohon beringin di depan gedung parlemen.
“Dapat dari mana?” tanya Saifuddin Zuhri.
“Ada kiriman uang dari Kalimantan. Saya beli mobil seharga Rp. 18.000,” jawab Idham Chalid.
“Kok mahal banget?” tanggap Saifuddin Zuhri.
“Apa mahal! Lihat dulu barangnya, mesinnya masih tokcer!” jawab Idham Chalid.
Tiba-tiba Kiai Ilyas keluar dari sidang parlemen dengan Ahmad Achsien. Saifuddi Zuhri memberitahukan kepadanya bahwa Idham Chalid membawa mobil “baru”. Ia kepengen juga mencoba hendak menebeng sampai ke rumahnya. Adapun Ahmad Achsien sudah punya mobil sendiri, maka ia pulang dengan mobilnya.
Idham Chalid lalu duduk di kursi kemudi, ia hendak mengemudikan sendiri. Saifuddin Zuhri membatin “Kapan Idham Chalid belajar mengemudi?”. Saifuddin Zuhri-pun meyakinkan di dalam hati bahwa Idham Chalid sudah pandai mengemudi mobil, kemudian ia berdiam.
Mobil keluar dari halaman parlemen menuju arah jalan Pejambon. Jalannya mobil tidak lurus, tidak stabil. Pedal rem sering diinjak tiba-tiba, lalu tancap gas tak kepalang tanggung. Kiai Ilya melirik kepada Saifuddin Zuhri, dalam hati beliau barang kali mengatakan: “kok begini menyetirnya?” Tetapi Saifuddin Zuhri tidak membalas lirikannya. Ia Cuma diam saja. Sejak tadi ia membaca shalawat di dalam hati.
Mobil nyaris menyenggol pengendara sepeda di dekat Stasiun Gambir. Kiai Ilyas berteriak nyaring!
“Ya akhi, kalau ada orang jualan rokok di depan itu, berhenti sebentar!” seru Kiai Ilyas kepada Idham Chalid.
Di depan penjual rokok, Idham Chalid menghentikan mobilnya, agak keterusan. Kiai Ilyas turun dari mobil. Dikira ia akan membeli rokok, ternyata ia berjalan menuju trotoar.
“Mengapa? Hayo naiklah!” ajak Saifuddin kepada Kiai Ilyas.
“Terima kasih! Jalan kaki lebih aman!” Kiai Ilya terus mempercepat langkahnya menuju arah Prapatan.
“Penakut!” teriak Idham Chalid.
Saifuddin Zuhri yang mulanya duduk dibelakang pindah duduk di kursi samping Idham Chalid. Mesin kemudian dihidupkan kembali, mobil mulai jalan. Sepanjang jalan Saifuddin Zuhri membiarkan Idham Chalid mengemudikan mobilnya sekehendak hatinya. Ia diam saja, namun dihatinya memperbanyak membaca shalawat. Syukurlah, akhirnya mereka sampai juga ke tujuan dengan selamat, walaupun menurut Saifuddin Zuhri ia tidak begitu sehat. Kepalanya pening.


Kamis, 08 Maret 2018

Permainan Simbolik Kaum Tradisionalis dan Modernis Dalam Kegiatan Literasi

Dulu, sekitar tahun 60-han terdapat sebuah garis yang sangat jelas memisahkan komunitas Muslim ke dalam kelompok "tradisionalis" dan "modernis" (baca: NU dan Muhammadiyah).

Kelompok pertama biasanya mempelajari agama secara ekslusif melalui kitab kuning. Sedangkan kelompok kedua membaca dan menulis "buku butih", yang ditulis dalam bahasa Indonesia berhuruf latin. Buku-buku yang ditulis dengan tulisan Arab di sebut "kitab", sedangkan yang ditulis dengan huruf Latin disebut "buku".

Di kalangan Muslim Tradisionalis muncul sikap negatif terhadap buku putih. Di beberapa pesantren tradisional buku semacam ini masih dilarang. Para ulama tradisionalis menulis buku-buku atau risalah-risalah singkat, baik yang menggunakan bahasa Arab maupun bahasa daerah, selalu menggunakan bahasa Arab, dan kebanyakan mereka tetap menggunakannya sampai sekarang.

Sementara di kalangan muslim modernis, juga muncul sikap demikian. Para pengarang buku putih berpijak pada upaya untuk kembali kepada sumber-sumber asli Al-Qur'an dan Hadits. Kitab-kitab klasik warisan ulama abad pertengahan dianggap kolot dan ketinggalan jaman.

Namun, sekarang ini garis pembeda itu sudah menipis dan mulai memudar. Kelompok modernis umumnya menjadi kurang radikal dalam hal penolakan mereka terhadap tradisi kitab kuning. Sekarang terdapat beberapa pesantren Muhammadiyah yang menawarkan suatu kombinasi kurikulum tradisional (kitab kuning) dan kurikulum modern.

Demikian pula kaum tradisional, para kiai sudah menjadi semakin universal, atau meluas bacaan mereka. Banyak diantara mereka yang sekarang menulis dalam bahasa Indonesia di samping bahasa Arab, Melayu atau Jawa. Huruf Arab, walaupun masih merupakan tanda yang paling jelas dari orientasi tradisionalis, bukan lagi prasyarat utama.

Rabu, 07 Maret 2018

The Lost City, Menelusuri Jejak Nyai Undang dari Kuta Bataguh

The Lost City, Menelusuri Jejak Nyai Undang dari Kuta Bataguh

Dulu sekitar akhir tahun 80-an di kampung kami mendadak ramai didatangi orang-orang dari berbagai daerah, terutama Kalteng dan Kalsel. Apakah gerangan yang orang-orang kerjakan? Apakah yang mengundang mereka datang berduyun-duyun? Laki-laki, perempuan, orang dewasa dan bahkan anak-anak berjibaku, mengeruk lumpur untuk menemukan emas.
Rupanya pancaran logam mulia inilah yang menarik mereka berdatangan tanpa diundang ke kampung kami. Bayangkan saja, di sepanjang kampung, sampai ke pojok-pojok, berederet-deret tenda dari terpal di bangun. Makin hari, semakin banyak orang-orang berdatangan entah dari pelosok mana datangnya.
Sebagaimana kata pepatah, di mana ada gula di situ ada semut, begitulah di kampung kami. Orang-orang berdatangan bukan hanya untuk mendulang emas, tetapi datang juga pedagang-pedagang musiman. Kampung yang asalnya sunyi sepi dengan rutinitas penduduknya sebagai petani, mendadak menjadi hiruk pikuk penuh dengan berbagai kegiatan bahkan sampai ke malam hari. Kampung ini seolah terbangun dari tidur panjangnya.
Warga penduduk asli kampung bahkan sudah lupa bahwa  bahwa pekerjaan mereka adalah bertani. Sawah-sawah dan kebun-kebun sudah ditinggalkan, mereka ikut hanyut dengan aktivitas baru, sebagai pendulang emas. Memang, dibanding bertani atau berkebun warga bisa setiap hari mendapatkan uang dengan menjual emas kepada penadah yang tersebar di kampung, berdamaan dengan berdatangannya pendulang emas.
Konon emas yang didulang disini bukanlah emas alam. Orang-orang mendapat emas sebagian dalam bentuk yang sudah jadi, seperti cincin, kalung, leontin, gelang dan sebagian besar dalam bentuk leburan (emas yang terbakar) menggumpal atau serpihan-serpihan tipis. Terkang ditemukan serpihan-serpihan perahu, juga pengayuh (dayung) yang gagangnya kebanyakan berbentuk bulan sabit beserta tembingkar dari tanah yang kebanyakan sudah tidak utuh lagi. Para pendulang bersepikulasi apabila ketika menggali menemukan alat-alat seperti ini kemungkinan besar apa yang mereka kerjakan mengandung emas yang dicari-cari.
Entah bagaimana awalnya penduduk asli kampung tahu bahwa tanah mereka mengandung emas. Kemungkinan ketika mereka menggali tanah untuk membikin bedengan atau meninggikannya sering mendapatkan emas. Hingga satu atau dua orang mencoba mencarinya dengan menggunakan alat seadanya, seperti baskom, wajan atau kuali dan apa saja yang bisa digunakan untuk tempat mengancurkan tanah. Dan ternyata mereka mendapatkan apa yang mereka cari.
Tersebarlah berita, dari mulut ke mulut. Awal-awal hanya di sekitar kampung, lama kelamaan meluas hingga ke daerah-daerah lain, hingga banyaklah orang-berdatangan. Saya masih ingat orang membawa apa saja sebagai wadah untuk menghancurkan tanah, terutama alat-alat yang saya sebutkan di atas.
Mula-mula orang menghancurkan tanah hanya dengan mengadonnya dengan tangan, kemudian mereka membikin peti-peti dari kayu. Tanah tidak lagi dihancurkan dengan tangan, melainkan diinjak-injak dengan kaki sampai lunak dan menjadi bubur sampai akhirnya tinggal pasir agar emas dapat terlihat.
Belakangan para pendulang sudah mengunakan mesin dan alat penyedot untuk menghancurkan tanah dengan kapasitas yang lebih besar, seiring dengan itu pula emas sudah mulai sulit didapatkan.
Saya sudah sampaikan di awal tulisan ini bahwa emas yang dicari di sini bukanlah emas alam, tetapi emas yang sebagian besar dalam bentuk jadi atau paling tidak emas yang melebur karena hangus terbakar. Konon, ratusan tahun yang silam di sini telah berdiri sebuah kerajaan yang cukup besar dengan kekayaan yang melimpah. Rakyatnya hidup makmur yang dipimpin oleh seorang raja perempuan bernama Nyai Undang.
Nama kampung saya ini adalah Handil Kuta, di sebelah Selatan, sekitar satu kelometer terdapat juga Handil Bataguh, kedua handil ini hanya berbeda RT saja. Saat ini orang lebih mengenalnya dengan Kuta Bataguh. Terletak di Kelurahan Pulau Kupang, Kecamatan Bataguh Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Saya baru tahu setelah mencari di internet tentang legenda Nyai Undang bahwa istilah "kuta" berarti "benteng" dan "bataguh" berarti "kuat". Jadi Kuta Bataguh berarti "benteng yang diperkuat".
Untuk legenda Nyai Undang lebih lengkapnya dapat ditelusuri di sini: https://www.infoitah.net/2015/12/legenda-nyai-undang-pertempuran-kuta-bataguh.html?m=1
Tapi saya kira informasi yang lebih lengkap tentang Nyai Undang dan Kuta Bataguh-nya ada dalam buku The Lost City: Menelusuri Jejak Nyai Undang Dari Kuta Bataguh Dalam Memori Suku Dayak Ngaju yang ditulis oleh Herry Porda N.P. & M. Z. Arifin Anis & Mansyur. Sayangnya saya juga belum memiliki buku ini, maklumlah budget untuk membeli buku saya sudah ke-ok duluan. Semoga di bulan depan saya dapat memiliki buku ini.
Sisa-sisa kerajaan ini masih dapat terlihat ketika saya masih kecil. Tonggak-tonggak gelondongan dari kayu ulin yang berdiri berjejer rapi berdeameter antara 40 sampai 50 cm dijadikan sebagai benteng pertahanan kerajaan. Sebagian besar kayu-kayu ulin ini sudah tinggal sebatas tanah karena terbakar api. Sebagian warga juga mengambilnya untuk dijadikan sebagai bahan untuk membuat rumah.
Sisa-sisa peninggalan sejarah ini semakin hancur ketika orang-orang berdatangan untuk mencari emas di dalam lokasi bekas kerajaan yang luasnya berpuluh-puluh hektar (menurut laporan petugas dari Provinsi Kalteng yang datang pada akhir Agustus 2017 lalu melakukan analisis  terhadap Kuta Bataguh luasnya mencapai 5.000 meter persegi). Walaupun ada kepercayaan lokal di masyarakat bahwa segala apa yang ditemukan di sini tidak boleh dibawa ke laur, apabila dibawa akan menjadi malapetaka baginya. Namun tetap saja tidak menghalangi situs ini dari kehancuran, disamping tidak adanya edukasi dari pihak yang berwenang.
Gauri Vidya Dhaneswara, analis Potensi Cagar Budaya dan Koleksi Musium bersama Markorius, Kepala Seksi Registrasi dan Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Kalteng dalam laporan Tabengan.com mengatakan bahwa Bataguh pada masanya merupakan pusat perdagangan yang cukup tersohor dan telah berhubungan dengan Tiongkok. Terbukti dengan ditemukannya manik dari Tiongkok.
Sumber: Tabengan.com
Sumber: Tabengan.com
Juga, diperkirakan ada indikasi Bataguh sudah menjalin hubungan dengan pedagang dari Timur Tengah, dengan ditemukannya manik bintang dan bulan. Selain itu ditemukan juga meriam. Meriam pertama kali diproduksi oleh Tiongkok, dan dibuat secara massal. Menurut Gauri akan diadakan uji coba karbon terhadap barang-barang yang ditemukan sehingga nanti akan diketahui umur barang tersebut.
Baru-baru ini saya melihat di status facebooks kawan sekampung asal saya, bahwa hari Sabtu atau Minggu, 17 &18/02/2018 ini Gubernur Kalimantan Tengah Sugianto Sabran akan mengunjungi situs sejarah yang lama terlantar ini. Baru-baru ini juga telah dibangun jalan darurat menuju ke situs sejarah tersebut. Namun barusan saya mendapatkan kompirmasi bahwa Sabran urung datang, walaupun masyarakat di Kuta Bataguh telah menanti-nanti kedatangannya.
Semoga saja dengan adanya perhatian dari pihak berwenang situs sejarah yang sangat berharga tersebut dapat dilestarikan, sebagai sumber sejarah dan edukasi bagi generasi yang akan datang.

Senin, 15 Januari 2018

KAMI, SUNGAI DAN HANDIL

KAMI, SUNGAI DAN HANDIL

Sungai, setidaknya dia telah menjadi urat nadi kehidupan manusia sejak berabad-abad lamanya. Sebelum alat tranfortasi darat mendominasi, sungai mempunyai fungsi yang sangat penting dalam kehidupan sosial-ekonomi masyarakat. Sungailah yang menghubungkan antara satu daerah ke daerah lainnya. Ini wajar saja karena hampir 60 % wilayah di Indonesia dikelilingi oleh air.

Kalau melihat sejarah perekembangan masyarat di beberapa daerah, terutama di daerah Kalimantan dan Sumatera, pemukiman masyarakat awal-awal di bangun di sekitar pesisir sungai. Sungai merupakan sumbar penghidupan, karena sungai selain digunakan sebagai tempat pemenuhan keperluan sehari-hari juga berfungsi sebagai jalan untuk menghubungkan antar satu daerah-dengan daerah lainnya, bahkan dijadikan sebagai sumber penghasilan.

Deminian pula bagi kami yang hidup di pesisir, sungai adalah urat nadi kehidupan. Ia berfungsi sebagai jalan yang menghubungkan antara satu kampung ke kampung yang lain, antara satu desa ke desa yang lainya, bahkan antar daerah, terhubung melalui sungai.

Di sisi kanan kiri sungai bermuara ratusan anak-anak sungai, kami menyebutnya handil. Air mengalir dari anak-anak sungai menuju sungai yang lebih besar yang bermuara di laut. Tetapi tidak selamanya begitu, terkadang air juga datang dari laut memenuhi sungai dan sampai ke anak-anak sungai. Peristiwa pertama kami sebut dengan pasang, sedangkan peristiwa kedua kami menyebutnya pandit (surut).

Pada waktu-waktu tertentu, jika pasang tiba, terkadang air menghilangkan sebagian daratan dan memenuhi sebagian rumah-rumah penduduk di pesisir sungai. Warga sudah mafhum dengan dengan beristiwa ini, sebagian warga membangun rumah dengan meninggikannya supaya air tidak lagi naik ketika pasang tiba. Tonggak-tonggak yang digunakan untuk meninggikan rumah ini terbuat dari kayu ulin (kayu besi) yang memang terkenal kuat dan tidak mudah lapuk.

Di tepian sungai, rumah-rumah warga dibagun di bahu-bahu kanan kiri sungai, separu dari rumah masuk ke sungai, bahkan lama kelamaan rumah warga sudah benar-benar sepenuhnya berada di sungai karena tepian-tepian sungai tergerus oleh air. Kecuali rumah-rumah warga yang berada di tepian anak-anak sungai (handil), rumah-rumah warga dibangun lebih kedaratan.

Handil ibarat gang-gang di kota-kota besar. Kalau di kota, gang diberi nama dengan nama-nama tertentu, begitu juga handil. Seperti Handil Asam, Handil Nyiur, Handil Batu, Handil Semangat dan lain-lain, layaknya nama-nama gang-gang atau jalan kecil yang ada di kota.

Di pinggiran sungai yang tidak ada pemukiman tumbuh subur pohon Rambai Padi (sejenis mangruf). Pohon inilah yang berfungsi sebagai pagar hidup untuk mengurangi abrasi tepian sungai. Akar-akarnya yang kuat menghunjam ke tanah dan ujungnya yang muncul kepermukaan meruncing seperti sudah didesain Sang Pencipta untuk menahan tepian sungai dari longsor.

Kuncup bunganya apabila telah mekar berbentuk seperti bintang, tetap menempel sampai buahnya matang.  Apabila buahnya telah matang dan jatuh dibawa oleh arus air sungai, akan mudah tersangkut di tepian sungai. Kemudian buah yang tersangkut itu membusuk dan bijinya yang ratusan itu tersebar kemana-mana, kemudian tumbuh membentuk tunas-tunas baru. Ternyata begitulah cara alam melestarikan lingkungannya.

Kami anak-anak pesisir sering memanjat pohon-pohon ini,  mencari cabang yang menjulur ke sungai kemudian melompat ke dalam air sambil menyelam dalam-dalam kemudian muncul di bawah pohonnya untuk naik kembali dan terjun, berulang-ulang sampai kami puas. Sesekali kami memetik buahnya yang sudah matang yang rasanya kecut sedikit manis untuk menganjal perut yang lapar.

Warga di pesisir menjadikan hampir seluruh aktivitas keseharian mereka di sungai. Mulai dari aktivitas MCK sampai keperluan air minum hingga memasak pun terkadang diambil dari  sungai. Tidak mudah merubah kebiasaan ini.  Mereka sudah terbiasa sejak lama, bahkan turun temurun. Walaupun ada himbawan dari pemerintah agar merubah kebiasaan ini, terutama masalah sanitasi.

Seiring berjalannya waktu, saat ini sungai tidak lagi sepenting dulu. Mobilitas masyarakat tidak lagi sepenuhnya di sungai. Daratan sudah menjadi tanah harapan baru. Jalan-jalan sudah dibangun lengkap dengan jembatan-jembatannya yang gagah dan kokoh melintasi sungai. Namun terkadang jembatan dibangun terlalu rendah hingga menyulitkan aktivitas di sangai, dan menambah sulitnya warga yang masih setia dengan angkutan sungai yang kini telah mulai ditinggalkan.

Pergeseran pola hidup masyarakat dari orientasi sungai ke daratan menyebabkan sungai tidak lagi sepenting dahulu. Jika dahulunya perumahan penduduk menghadap ke arah sungai, sekarang berubah menjadi 'memantatin' sungai. Hal ini terjadi karena fungsi rumah bukan hanya sebagai tempat tinggal tetapi dijadikan sebagai tempat usaha, seperti warung atau toko yang berada pada bagian rumah yang menghadap ke jalan.


Ketidakramahan masyarakat terhadap sungai dan handil saat ini telihat dari banyaknya sungai yang sudah hampir mati dan bahkan beberapa handil diperkotaan telah hilang dan berubah menjadi pemukiman.